Minggu, 04 Mei 2014

TEORI KULTURAL GRAMSCI

A.       Konsep Gramsci tentang Kebudayaan
Seperti halnya marx, Gramsci menganggap dunia gagasan, kebudayaan, superstruktur, bukan hanya sebagai refleksi atau ekspresi dari struktur kelas ekonomi atau infrastruktur yang bersifat material, melainkan sebagai salah satu kekuatan material itu sendiri (Faruk, 2005: 62). Gramsci mencontohkan Revolusi Perancis yang tidak akan terjadi jika tidak terjadi revolusi ideologis. Dalam teori Gramsci ini terdapat enam konsep kunci, yaitu kebudayaan, hegemoni, ideologi, kepercayaan populer, kaum intellektual, dan negara.

1.        Kebudayaan
Ketika berusia 24 tahun Gramsci sudah menaruh perhatian yang besar terhadap kebudayaan sebagai satu kekuatan material yang mempunyai dampak praktis dan “berbahaya” bagi masyarakat. Bagi Gramsci konsep kebudayaan yang lebih tepat, lebih adil, dan lebih demokratis adalah kebudayaan sebagai organisasi, disiplin diri batiniah seseorang yang merupakan suatu pencapaian suatu kesadaran yang lebih tinggi, yang dengan sokongannya, seseorang berhasil dalam memahami nilai hstoris dirinya, fungsinya di dalam kehidupan, hak-hak dan kewajibannya (2005: 66). Proses “pembudayaan” ini tentu saja tidak terjadi secara alamiah tetapi melalui penyebaran ide-ide penyadaran yang mulanya mendapat penentangan karena faktor interes ekonomi. Kemudian terjadi gerakan perlawanan fisik setelah didahului perlawanan ideologis.

2.        Hegemoni
Faruk (2005: 70) mendefinisikan hegemoni sebagai sifat kompleks dari hubungan antara massa rakyat dengan kelompok-kelompok pemimpin masyarakat: suatu hubungan yang tidak hanya politis dalam pengertian yang sempit, tetapi juga persoalan mengenai gagasan-gagasan atau kesadaran.

3.        Ideologi, Kepercayaan Populer, dan Common Sense
Gramsci menyatakan ada tiga cara dalam penyebaran gagasan/ideologi atau filsafat tertentu yaitu melalui bahasa, common sense, dan folklore. Common sense adalah pemahaman yang mempunyai dasar dalam pengalaman populer tetapi tidak merepresentasikan suatu konsepsi yang terpadu mengenai dunia seperti halnya filsafat.

4.        Kaum Intellektual
Kaum intelektual berfungsi sebagai penyebar ideologi. Kata “intelektual” harus dipahami tidak dalam pengertian yang biasa. Kaum intelektual ini merupakan suatu strata sosial yang menyeluruh yang menjalankan suatu fungsi organisasional dalam pengertian yang luas – entah dalam lapangan produksi, kebudayaan, ataupun dalam administrasi politik.

5.        Negara

Gramsci membedakan dua wilayah dalam negara, yaitu dunia masyarakat sipil dan masyarakat politik. Yang pertama penting bagi konsep hegemoni karena merupakan wilayah “kesetujuan”, “kehendak bebas”, sedangkan wilayah kedua merupakan dunia kekerasan, pemaksaan, dan intervensi.

STRUKTURALISME GENETIK

Teori ini dicetuskan oleh Lucien Goldmann. Meskipun Goldman beraliran marxis, ia tidak menganggap bahwa sastra merupakan superstruktur. Sebaliknya ia berpendapat bahwa sastra merupakan sebuah struktur yang merupakan produk dari proses sejaran yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya yang bersangkutan (Faruk, 2005: 12).
Untuk menopang pendapatnya, Goldmann membangun perangkat-perangkat kategori berikut.
1.        Fakta Kemanusiaan
2.        Subjek Kolektif
3.        Pandangan Dunia: Strukturasi dan Struktur
4.        Struktur Karya Sastra
5.        Dialektika Pemahaman-Penjelasan

Daftar Pustaka

Faruk. 2005. Pengantar Sosiologi Sastra: dari Strukturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sabtu, 26 April 2014

KARANGAN BUNGA KARYA TAUFIQ ISMAIL: ANALISIS RINGKAS

KARANGAN BUNGA

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu

'Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi.'

1966

Puisi ini dikutip dari Tirani dan Benteng karya Taufiq Ismail dengan latar foto pelepasan jenasah Arief Rachman Hakim tangal 25 Pebruari 1966. Arief Rachman Hakim adalah salah satu demonstran dari fakultas kedokteran Universitas Indonesi yang tertembak didepan Istana Negara.
Berdasarkan teks, naskah tersebut bisa dipahami dengan parafrase berikut.

KARANGAN BUNGA

(Tritura seperti) Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke (kampus UI) Salemba
Sore itu

'Ini dari kami bertiga (tritura sebagai suara rakyat)
(sebuah) Karangan bunga berpita hitam (sebagai tanda turut berduka)
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi (dalam demonstrasi).'

Untuk memperjelas lagi perlu dianalisis unsur bagian puisi tersebut penggal demi penggal.

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu

"Tiga anak kecil" adalah Tritura atau Tiga tuntutan rakyat. "anak kecil" menjadi simbol kelahiran yang masih baru karena baru berupa tuntutan. "Dalam langkah malu-malu" menguatkan baris sebelumnya yang menunjukkan kelahiran. "langkah malu-malu" karena merupakan perjuangan yang belum berwujud. "Datang ke Salemba" untuk menyatakan bela sungkawa pada jenasah Arief Rachman Hakim yang akan dimakamkan "Sore itu."

Tritura sebagai simbol keinginan rakyat seolah-olah berkata,
'Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi.
"Pita hitam pada karangan bunga" merupakan bentuk inversi dari "karangan bunga berpita hitam" yang merupakan simbol turut berduka cita. Ini dikuatkan dengan baris berikutnya "Sebab kami ikut berduka"

Rabu, 19 Februari 2014

METAFORA



Metafora adalah sebuah kata atau ungkapan yang dalam penggunaan literalnya menunjukkan satu macam hal yang dikenakan pada sebuah hal lain yang benar-benar berbeda tanpa penyisipan pembanding (Abrams dan Harpham, 2009: 119). Dengan kata lain metafora adalah menggunakan kata tertentu sebagai ganti kata lain yang benar-benar berbeda tanpa menggunakan pembanding seperti, sebagai, bagai, seperti, bak, dsb. misalnya meja hijau sebagai pengganti pengadilan.
Metafora muncul pertama kali dalam retorika kemudian dipakai oleh sastra yang dipopulerkan oleh teoris sastra. Metafora kemudian menjadi perhatian ahli-ahli bahasa. Namun, metafora dalam sastra secara signifikan berbeda dengan metafora dalam bahasa. Linguis memperhatikan metafora yang beredar dalam masyarakat dan telah menjadi biasa dengan demikian tidak terasa lagi sebagai metafor, misalnya kaki gunung, kaki meja, leher botol dsb.

Jumat, 24 Januari 2014

BALADA




Balada adalah singkatan dari balada populer, sering juga disebut balada rakyat atau balada tradisional. Balada dibatasi sebagai sebuah nyanyian yang disampaikan secara lisan dan isinya menyampaikan cerita. Dengan demikian, balada adalah nyanyian rakyat yang berjenis narasi yang disampaikan secara lisan ditengah-tengah masyarakat yang tidak bisa membaca, atau hanya sebagian kecil yang bisa membaca. Ciri-ciri lain dari balada populer ini adalah dramatis, ringkas, dan impersonal (Abrams & Harpham, 2009: 21).
Balada diperkirakan muncul, di eropa, pada akhir Abad Pertengahan. Balada dikumpulkan dan dicetak pada abad XVIII. Di Amerika, balada dibawa dari Inggris kemudian terjadi penambahan atau pengaruh dari penduduk asli, seperti yang dinyanyikan penebang kayu, gembala sapi, buruh, dan kritikus sosial (2009: 22).