Jumat, 01 Mei 2015

FORMALISME RUSIA

A. Sekilas tentang Formalisme
Formalisme dikenal karena meluasnya strukturalisme. Formalism adalah cikal bakal strukturalisme. Formalisme, seperti juga struktualisme, bertujuan untuk mengeksplorasi secara khusus teks-teks dalam sastra. Formalisme menolak spiritualitas pincang yang menjadi aliran poetika romantis yang merupakan pendahulunya. Formalisme mengajukan sebuah pendekatan detil dan empiris dalam pembacaan sastra. (Selden, 1986: 6)
Formalisme merupakan gerakan sastra yang dimulai 1915-1930 di Rusia. Gerakan ini berawal dari berdirinya Lingkar Linguistik Moskow (Moscow Linguistic Circle) pada 1915 dan Opojaz (merupakan singkatan dari masyarakat/perkumpulan untuk studi bahasa poetika) pada 1916 (Selden, 1986: 7). Gerakan ini mengalami tekanan dari pemer

Jumat, 24 April 2015

KARAKTER DAN KARAKTERISASI


1.     Tokoh dan Petokohan?
Penggunaan kata karakter dan karakterisasi bukan tanpa alasan. Di banyak buku berbahasa Indonesia istilah yang banyak digunakan adalah tokoh dan penokohan. Istilah ini kurang mengena karena bersifat terlalu umum. Tokoh bisa digunakan dalam dunia nyata dan fiksi, misalnya tokoh pergerakan, tokoh partai, tokoh pendidikan, dsb. Karakter, dalam bahasa Indonesia, menjadi istilah khusus sastra setelah diadaptasi ke bahasa Indonesia.
Namun, keduanya tetap masih menghasilkan kerancuan istilah karena karakter sekalipun dalam bahasa asalnya bukan istilah sastra saja. Karena itu, saya mengusulkan sebuah istilah yang sebenarnya sudah tidak asing karena berasal dari bahasa Jawa bahkan sudah diserap menjadi bahasa Indonesia, yaitu lakon. Istilah ini hanya muncul pada dunia pertunjukan yaitu

Jumat, 17 April 2015

ROMANTISME



Aliran kesenian yang mengutamakan perasaan sehingga fantasi dan perasaan seniman yang paling dominan dan menarik pembaca ke dalam dunia fantasi tersebut. Aliran ini dimulai pertama kali di Inggris kira-kira masa pecahnya Revolusi Perancis 1789 sampai pada tiga dekade awal abad sembilan belas. Aliran ini menyebar keseluruh dunia dengan berbagai waktu yang berbeda.
Dalam sastra Indonesia, romantisme meliputi rentang waktu antara 1920-1942. Rentang waktu tersebut terbagi menjadi dua periode kesusastraan, yaitu zaman Balai Pustaka dan zaman Pujangga Baru. Balai Pustaka bersifat romantis sentimental dan Pujanga Baru romantis idalistis.
Ciri-ciri aliran romantis sebagai berikut.
1.     Perasaan dan fantasi memegang peranan.
2.     Adanya rasa tidak puas terhadap yang ada.
3.     Dalam mengucapkan jiwanya biasanya pengarang mempunyai minat besar terhadap alam.

Daftar Pustaka
Abrams, M.H. & Geoffrey Galt Harpham. 2009. A Glossary of Literary Terms, Ninth Edition. Boston: Wadsworth Cengage Learning
Soetarno. 1983. Peristiwa Sastra Indonesia. Surakarta: Widya Duta

Jumat, 10 April 2015

BUNYI BAHASA ARAB

Pendahuluan
Pemahaman terhadap bunyi sebuah bahasa menentukan pemahaman terhadap bahasa tersebut. Alasannya bunyi bahasa merupakan hal utama dalam sebuah bahasa. Dengan demikian, memahami bunyi sebuah bahasa merupakan hal pertama dipahami oleh seorang pelajar bahasa tertentu. Masalahnya, pemahaman bunyi bahasa “asing” tidak selalu mudah. Ada bunyi-bunyi berbeda yang tidak ditemukan dalam bahasa sebelumnya yang sudah dikuasai.
Tulisan ini hanya akan menghadirkan penjelasan bunyi secara singkat dengan asumsi bahwa ilmu tentang bunyi sudah dikuasai. Teori-teori bunyi tidak akan dibahas kecuali yang dianggap perlu sebagai penjelas.

Bunyi Bahasa Arab
Seperti bunyi bahasa yang lain bunyi bahasa Arab terbagi atas bunyi vokal dan konsonan.

Vokal
Vokal bahasa arab terdiri atas tiga vokal utama yaitu a, i, dan u atau biasa disebut fathah, kasrah, dan dlommah.

Konsonan
Bunyi konsonan dapat dikenali dengan mendasarkan pada tiga faktor, yaitu:
1)        keadaan pita suara
2)        daerah artikulasi,
3)        cara artikulasi (Moeliono, 1997: 54), dan
4)        tebal tipis bunyi (Nasution, 2010: 93-108; Watson, 2007: 19)
Watson menggunakan istilah tegas atau emphatic, dan Thelwal dan Sa'adeddin (2007: 51) menggunakan istilah faringial. Dengan empat faktor tersebut, berikut disajikan konsonan konsonan bahasa arab sesuai dengan urutan abjad hijaiyah.
a)        Hamzah (ء) [ ʔ ] merupakan konsonan glottal/ letup/ tak bersuara.
b)        Ba’ (ب) [ b ] merupakan konsonan bilabial/ letup/ bersuara.
c)         Ta’ (ت) [ t ] merupakan konsonan apiko-dental/ letup/ tak bersuara.
d)        Tsa’ (ث) [ ɵ ] merupakan konsonan apiko-interdental/ geser/ tak bersuara.
e)        Jim (ج) [ ʤ ] merupakan konsonan medio-palatal/ letup/ bersuara.
f)          Ha’ (ح) [ ḥ ] merupakan konsonan faingal/ geser/ bersuara.
g)        Kha’ (خ) [ x ] merupakan konsonan dorsovelar/ geser/tak bersuara.
h)         Dal (د) [ d ] merupakan konsonan apikodental/ letup/ bersuara.
i)          Dzal (ذ) [ δ ] merupakan konsonan apiko-interdental/ geser/ bersuara
j)          Ra’ (ر) [ r ] merupakan konsonan apiko-alveolar/
k)         Za’ (ز) [ z ] merupakan konsonan apiko-alveolar/ geser/ bersuara
l)          Sin (س) [ s ] merupakan konsonan apiko-alveolar/ geser/ tak bersuara
m)       Syin (ش) [ ʃ ] merupakan konsonan apiko-palatal/ geser/ bersuara/
n)         Shad (ص) [ ṣ ] merupakan konsonan apiko-alveolar/ geser/ tak bersuara/ tebal
o)        Dla’ (ض) [ ḍ ] merupakan konsonan apiko-dental/ letup/ bersuara/ tebal.
p)        Tha’ (ط) [ ṭ ] merupakan konsonan apiko-dental/ letup/ tak bersuara/ tebal.
q)        Dha’ (ظ) [ ḏ ] merupakan konsonan apiko-interdental/ geser/ bersuara/ tebal.
r)          Ain (ع) [ c ] merupakan konsonan faringal/ geser/ bersuara.
s)         Ghain (غ) [ ᴚ ] merupakan konsonan dorso-velar/ geser/ bersuara.
t)          Fa’ (ف) [ f ] merupakan konsonan labio-dental/ geser/ bersuara.
u)         Qaf (ق) [ q ] merupakan konsonan uvular/ letup/  tidak bersuara.
v)         Kaf (ك) [ k ] merupakan konsonan dorso-velar/ letup/ tidak bersuara.
w)        Lam (ل) [ l ] merupakan konsonan apiko-dental/ samping/ bersuara.
x)         Mim (م) [ m ] merupakan konsonan bilabial/ nasal/ bersuara
y)         Nun (ن) [ n ] merupakan konsonan apikodental/ nasal/ bersuara.
z)         Wawu (و) [ w ] merupakan konsonan bilabial/ semivokal/ bersuara.
aa)     Ha’ () [ h ] merupakan konsonan glotal/ geser/ bersuara.

bb)     Ya’ (ي) [ j ] merupakan konsonan medio-palatal/ semivokal/ bersuara.

DAFTAR PUSTAKA

Moeliono, Anton M. [et.al.]. 1997. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Nasution, Ahmad Sayuti Ansari. 2010. Bunyi Bahasa: ‘Ilm al-Ashwät al-‘Arabiyah. Jakarta: Amzah
Thelwall, Robin dan Sa’adeddin, M. Akram. 2007. “Arabic”, dalam Handbook of The International Phonetic Association. Cambridge: Cambridge Unibversity Press.
Watson, Janet C. E. 2007. The Phonology and Morphology of Arabic. Oxford: Oxford University Press.

Jumat, 03 April 2015

KRITIK SASTRA BARU (NEW CRITICISM)


Istilah ini, meluas ke publik dengan terbitnya buku John Crowe Ransom berjudul The New Criticism pada 1941, muncul untuk diterapkan pada teori dan praktek yang tetap menonjol dalam kritik sastra Amerika sampai akhir tahun 1960-an. Gerakan ini berasal sebagian besar dari unsur-unsur dalam buku IA Richards Principles of Literary Criticism (1924) dan Practical Criticism (1929) dan dari esai kritis TS Eliot. Gerakan ini menentang minat ilmuan, kritikus, dan guru yang jamak pada masa itu dalam menulis berdasarkan biografi pengarang, konteks sosial sastra, dan sejarah sastra. Dengan keras dinyatakan bahwa perhatian kiritik sastra yang benar tidak didasarkan pada situasi dan akibat eksternal atau posisi historis sebuah karya, tetapi dengan pertimbangan yang detil dari karya itu sendiri sebagai entitas mandiri. Kritikus terkemuka dalam model ini adalah Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren, yang buku teksnya berjudul Understanding Poetry (1938) dan Understanding Fiction (1943) berpengaruh besar membuat Kritik