Jumat, 23 Maret 2012

TEORI MITOS VLADIMIR PROPP (Struktural Naratologis)

Selain membahas masalah struktur pembangun berupa unsur intrinsik dan ekstrinsik, strukturalisme juga membahas struktur naratif cerita. Salah satu ahli yang menggeluti bidang ini adalah Vladimir Propp. Propp memulai dengan masalah pengklasifikasian dan pengorganisasian cerita rakyat. Propp secara induktif mengembangkan empat hukum yang menempatkan sastra rakyat atau fiksi pada pijakan baru. Karena inilah Vladimir Propp dikenal sebagai cikal bakal struktural naratologis (Herman & Vervaeck, 2005: 52). Keempat hukum tersebut sebagai berikut.
1.        Fungsi karakter (tokoh) sebagai sebuah penyeimbang, elemen-elemen tetap dalam sebuah cerita, tidak bergantung kepada bagaimana atau karena siapa mereka terpenuhi. Elemen-elemen tersebut membentuk komponen-komponen fundamental sebuah cerita.
2.        Jumlah fungsi yang dikenal dalam cerita peri terbatas.
3.        Rangkaian fungsi itu selalu identik.
4.        Semua cerita peri terdiri atas satu tipe jika dilihat dari strukturnya.
Dalam membandingkan semua fungsi cerita-cerita tersebut, Propp menemukan bahwa jumlah keseluruhan fungsi tidak lebih dari tiga puluh satu fungsi. Fungsi-fungsi tersebut disusun sebagai berikut.
1.        Salah satu anggota keluarga hilang/pergi dari rumah.
2.        Larangan ditujukan pada sang pahlawan.
3.        Larangan dilanggar.
4.        Penjahat berusaha mengintai.
5.        Penjahat menerima informasi tentang korbannya.
6.        Penjahat berusaha menipu korbannya untuk menguasai korban atau (harta) milik korban.
7.        Korban tertipu dan tanpa sadar membantu musuhnya.
8.        Penjahat membahayakan atau melukai seorang anggota keluarga.
8a.  Seorang anggota keluarga kekurangan atau menginginkan sesuatu.
9.        Kemalangan atau kekurangan diketahui.
10.   Pencari setuju atau memutuskan untuk mengatasi halangan.
11.   Pahlawan meninggalkan rumah.
12.   Pahlawan diuji, diinterogasi, diserang, dsb. dalam proses mendapatkan alat (agent) sakti atau penolong.
13.   Pahlawan mereaksi tindakan donor masa depan.
14.   Pahlawan memperoleh kekuatan alat sakti.
15.   Pahlawan dipindah, dikirim, atau digiring/dituntun kemana-mana dalam pencarian objek.
16.   Pahlawan dan penjahat terlibat perang langsung.
17.   Pahlawan mendapat nama (terkenal)
18.   Penjahat dikalahkan
19.   Kemalangan atau kekurangan awal berhasil dimusnahkan.
20.   Pahlawan kembali.
21.   Sang pahlawan dikejar.
22.   Penyelamatan pahlawan dari kejaran.
23.   Pahlawan – yang tidak dikenali – pulang atau pergi ke negeri lain.
24.   Seorang pahlawan palsu menyatakan tuntutan (claim) yang tidak berdasar.
25.   Sebuah tugas yang sulit diajukan pada sang pahlawan.
26.   Tugas berhasil dipecahkan.
27.   Sang pahlawan dikenali.
28.   Pahlawan palsu atau penjahat terungkap.
29.   Pahlawan palsu diberikan tampilan baru.
30.   Penjahat dihukum.
31.   Pahlawan menikah dan bertakhta.
Propp menyebut tujuh fungsi pertama sebagai unit persiapan. Komplikasi ditandai dengan nomor 10. Komplikasi diikuti dengan perpindahan, perjuangan, kembali (kepulangan), dan pengenalan.
Sebagai tambahan dari tiga puluh satu fungsi tersebut, Propp menambah tujuh “putaran aksi” (spheres of action). Ketujuhnya disusun sebagai berikut.
1.        Penjahat.
2.        Donor (penyedia).
3.        Penolong.
4.        Putri dan ayahnya.
5.        Utusan (dispatcher)
6.        Pahlawan (pencari atau korban)
7.        Pahlawan palsu.

DAFTAR PUSTAKA
Herman, Luc & Bart Vervaeck. 2005. Handbook of Narrative Analysis. Lincoln & London: University of Nebraska Press
Scholes, Robert. 1973. Structuralism in Literature. New Haven dan London: Yale University Press

ANTOLOGI PUISI

Rozekki dengan nama pena Rozzaky adalah kontributor baru kami yang telah memiliki pengalaman dalam cipta seni sastra.
Berikut adalah salah satu antologi puisi dengan judul Rindu-Rindu yang merupakan kumpulan puisi tahun 2010. Bagi anda yang memiliki minat membaca puisi silahkan unduh pada link berikut.


Minggu, 18 Maret 2012

JOKO TOLE (BABAD SONGENEP {MADURA})


Joko Tole adalah putra Potre Koneng dengan Adipoday, tetapi tidak melalui proses perkawinan, melainkan hanya lewat mimpi. Oleh karena itu bayi Joko Tole kemudian disingkirkan dari keluarga istana Potre Koneng. Joko Tole dibuang ke hutan dan ditemukan Empo Kelleng. Pandai besi inilah yang membesarkan Joko Tole.
Saat Joko Tole berumur enam tahun, Kerajaan Majapahit yang juga menguasai Madura pada waktu itu berniat membuat pintu gerbang dari besi besar. Raja memanggil semua pandai besi di seluruh Kerajaan Majapahit, termasuk Empu Kelleng.
Setelah beberapa lama, pintu gerbang itu tidak juga jadi. Pintu itu tidak dapat ditegakkan karena terlalu besar dan akhirnya semua pandai besi menyerah tidak dapat menyelesaikannya.
Sementara itu, di Sumenep, Joko Tole dan Nyai Empo merasa gelisah karena Empo Kelleng tidak juga pulang. Namun, beberapa lama kemudian terbetik berita bahwa Empo Kelleng mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya. Karena itu, Joko Tole diminta menyusul.
Berkat kepandaian dan kecerdikan Joko Tole akhirnya pintu gerbang dapat dipasang. Empo Kelleng kembali ke Sumenep dengan membawa hadiah dari raja. Joko tole diminta tetap tinggal di istana Majapahit.
Berkat kemampuannya, Joko Tole makin lama makin dikenal. Jasanya kepada kerajaan Majapahit cukup banyak sehingga menyamai kedudukan Gajahmada, yang saat itu telah menjadi patih, bahkan Raja Majapahit pada suatu saat menyatakan bahwa Joko Tolelah yang akan menggantikannya.
Reputasi Joko Tole ternyata membuat iri Gajahmada. Oleh karena itu, Gajahmada selalu berusaha menyingkirkan Joko Tole dengan jalan memfitnah dan menjelek-jelekkan nama Joko Tole di hadapan raja.
Setelah mengetahui gelagat Gajahmada tersebut, akhirnya Joko Tole kembali ke Sumenep dengan membawa salah seorang putri Majapahit yang bernama Dewi Ratnadi. Di Sumenep, Joko Tole akhirnya menjadi raja dengan gelar Pangeran Saccadiningrat II. Pada saat pemerintahannya, Joko Tole sempat berperang dengan Dempoawang, putra Raja Bernama dari negara Kelleng. Pertempuran berlangsung di udara dan Joko Tole menang.
Karena usia lanjut, Joko Tole akhirnya menyerahkan kepemerintahannya kepada putranya, Arya Wiganda. Akhirnya, Joko Tole meninggal di desa Batang-batang.
Dari:
Sudikan, Setya Yuwana, et.al. 1993. Nilai Budaya dalam Sastra Nusantara di Madura. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Rabu, 14 Maret 2012

FERLIANA


Identitas Diri
Nama :Ferliana Ishadi
Tempat Lahir : Bangkalan
Tanggal Lahir : 2 Juni 1990
Jenis Kelamin : Wanita
Profesi : Mahasiswa/Guru PAUD
Kantor:
1. PAUD Aisyiyah Bangkalan
Kesukaan : Musik

Riwayat Pendidikan
SDN 02 Bangkalan (Bangkalan)
SMPN 03 Bangkalan (Bangkalan)
MAN Model Bangkalan (Bangkalan)
Tahun 2008 pernah terdaftar sebagai mahasiswa UTM Prodi Sosiologi S1
dan sekarang melanjutkan S1-nya di STKIP PGRI Bangkalan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan tahun 2010.

Sabtu, 10 Maret 2012

PROBLEMATIKA MORFOLOGIS

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam morfologi, ada beberapa problema yang dihadapi, seperti halnya dibawah ini :

  1. Problematika Akibat Unsur Serapan
  2. Problematika Akibat Kontaminasi
  3. Problematika Akibat Analogi
  4. Problema Akibat Perlakuan Kluster
  5. Problema Akibat Proses Morfologis Unsur Serapan
  6. Problema Akibat Perlakuan Bentuk Majemuk
  7. Peristiwa Morfofonemik
  8. Problem Proses Reduplikasi
  9. Problema Proses Abreviasi
  10. Problema Fungsi Dramatis dan Fungsi Semantis

1.2 Identifikasi

  1. Jelaskan pengertian dari masing – masing problematika yang telah tersebutkan diatas ?
  2. Jelaskan contoh – contoh yang telah ada tersebut ?


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Problematika Akibat Kontaminasi

Kontaminasi merupakan gejala bahasa yang menga-caukan konstruksi kebahasaan.

Kontaminasi dalam konstruksi kata, misalnya :

  1. Diperlebarkan, merupakan hasil pemaduan konstruksi diperlebar dan dilebarkan yang masing masing berarti 'dibuat jadi lebih besar lagi' dan 'dibuat jadi lebar'. Oleh sebab itu, konstruksi diperlebarkan memiliki arti yang rancu.
  2. Konstruksi kata mengenyampingkan juga dianggap sebagai konstruksi yang rancu sebab merupakan hasil pemaduan konstruksi mengesampingkan dan menyampingkan. Yang dikacaukan bukan artinya, tetapi morfofonemisnya, yaitu meluluhkan bunyi [s] pada ke samping pada bentuk dasar ke samping. Peluluhan seperti itu salah sebab bunyi [s] bukan bunyi awal bentuk dasar. Bunyi awal bentuk dasar ke samping adalah [k]. Oleh sebab itu, bunyi [k] lah yang diluluhkan apabila bergabung dengan morfem {meN-kan}, jadi, yang benar adalah mengesampingkan.
  3. Konstruksi kata dipelajarkan merupakan hasil pencampuran konstruksi dipelajari dan diajarkan, yang masing masing mempunyai arti tersendiri. Dengan pencampuran itu artinya menjadi kabur. Oleh sebab itu, bentuk itu dikatakan sebagai bentuk yang rancu.

2.2 Problematika Akibat Unsur Serapan

Adanya unsur bahasa asing yang terserap ke dalam bahasa Indonesia juga membuat problema tersendiri.

Kita tahu bahwa kata data dan datum, fakta dan faktum, alumni dan alumnus berasal dari bahasa Latin, yang masing - masing pasangan kata itu berarti 'jamak' dan 'tunggal'. Ternyata, dari pasangan itu yang terserap ke dalam bahasa Indonesia hanyalah bentuk jamaknya, yaitu data, fakta, dan alumni, sedangkan bentuk tunggalnya, yaitu datum, faktum, dan alumnus, tidak terserap ke dalam bahasa Indonesia.

Dalam unsur asing yang terserap ke dalam bahasa Indonesia dianggap sebagai satu kesatuan bentuk dan dengan sendirinya berarti tunggal. Akibatnya, walaupun yang diserap bentuk jamaknya, ia langsung dianggap sebagai satu kesatuan bentuk dan berarti tunggal. Oleh karena itu, bentuk data, fakta, dan alumni dianggap sebagai bentuk tunggal. Dengan demikian, konstruksi data - data, fakta - fakta, dan para alumni, banyak data, dan banyak fakta dianggap benar, sedangkan konstruksi datum - datum, faktum - faktum, dan para alumnus dianggap salah. Sehubungan dengan itu, konstruksi para hadirin, hadirin sekalian, para ulama, para arwah (pahlawan) dianggap benar walaupun dalam bahasa asingnya (bahasa Arab) bentuk hadirin, ulama, arwah berarti 'jamak'.

2.3 Problematika Akibat Analogi

Sebagai istilah bahasa, analogi adalah bentukan bahasa dengan menurut contoh yang sudah ada. Gejala analogi ini sangat penting dalam pemakaian bahasa sebab pada dasarnya pemakaian bahasa dalam penyusunan kalimat, frase, dan kata beranalogi pada contoh yang telah ada atau yang telah diketahuinya.

Contoh :

Adanya bentuk ketidak-adilan ketidakberesan, ketidakbaikan, dan seterusnya.

Adanya bentuk dikesampingkan dikekanankan, dikesanakan, dikesinikan, dan seterusnya.

Adanya bentuk pemersatu 'yang mempersatukan', kita dapat membentuk konstruksi pemerhati ('yang memperhatikan'); dan, dengan adanya pasangan bentuk penyuruh dan pesuruh (yang masing - masing berarti 'orang yang menyuruh' dan 'orang yang disuruh'), kita dapat membentuk pasangan konstruksi penatar dan pentatar, pendaftar dan pedaftar.

2.4 Problema Akibat Perlakuan Kluster

Kluster atau konsonan rangkap mengundang problema tersendiri dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan bahwa kata bahasa Indonesia asli tidak mengenal kluster. Kata yang berkluster (yang dipakai dalam bahasa Indonesia) itu berasal dari unsur serapan, misalnya program, proklamasi, prakarsa, traktir, transfer, transkripsi, sponsor, standar, skala, klasifikasi, kritik, kronologi.

Contoh :

  • Pemrograman, kelemahan penggunaan kata tersebut :

a) bentuk serapan di atas berbeda sifatnya dengan bentuk dasar bahasa Indonesia asli, yaitu konsonan rangkap dan tidak (walaupun keduanya berawal dengan k, p, t, s);

b) apabila diluluhkan, kemungkinan besar akan menyulitkan penelusuran kembali bentuk aslinya;

c) ada beberapa bentuk yang dapat menimbulkan kesalahpahaman arti.

2.5 Problema Akibat Proses Morfologis Unsur Serapan

Masalah ini ada kesamaan dengan masalah sebelumnya, yaitu berkenaan dengan perlakuan unsur asing. Hanya saja, yang menjadi tekanan di sini adalah proses morfologisnya.

Pada dasarnya, bentuk serapan dapat dikelompokkan menjadi dua:

  1. Bentuk serapan yang sudah lama menjadi keluarga bahasa Indonesia sehingga sudah tidak terasa lagi keasingannya.
  2. Bentuk serapan yang masih baru sehingga masih terasa keasingannya.

Bentuk serapan kelompok pertama dapat diperlakukan secara penuh mengikuti sistem bahasa Indonesia, termasuk proses morfologisnya, sedangkan kelompok kedua belum dapat di-perlakukan secara penuh mengikuti sistem bahasa Indonesia. Berdasarkan rambu rambu ini, kiranya kita dapat menyikapi apakah bentuk terjemah sudah lama terserap ke dalam bahasa Indonesia atau belum. Kalau sudah lama, berarti bentuk serapan itu patut diperlakukan secara penuh mengikuti sistem bahasa Indonesia. Dengan demikian, apabila bentuk terjemah digabung dengan {meN kan} akan menjadi menerjemahkan sebab, berdasarkan sistem bahasa Indonesia, fon [p] yang mengawali bentuk dasar akan luluh apabila bergabung dengan afiks {meN (kan/i)} dan {peN (an)}.

Contoh :

  • Ø Mengkalkulasikan kata dasar kalkulasi di afiksasikan dengan prefiks Men- dan sufiks -kan.

2.6 Problema Akibat Perlakuan Bentuk Majemuk

Problema ini terlihat pada persaingan pemakaian bentuk pertanggungjawaban dan pertanggungan jawab, kewarganegaraan dan kewargaan negara, menyebarluaskan dan menyebarkan luas. Dari contoh itu terihat dua perlakuan bentuk majemuk, yaitu bentuk majemuk yang unsur - unsurnya dianggap sebagai satu kesatuan, dan bentuk majemuk yang unsur - unsurnya dianggap renggang. Pendapat pertama menganggap unsur - unsur bentuk tanggung jawab, warga negara, dan sebar luas padu sehingga tidak mungkin disisipi bentuk lain di antaranya. Apabila ditempeli awalan atau akhiran, misalnya, itu harus diletakkan di awal unsur pertama dan atau di akhir unsur kedua. Sebaliknya, pendapat kedua menganggap unsur - unsur bentuk tanggung jawab, warga negara, dan sebar luas renggang sehingga memungkinkan disisipi bentuk lain di antaranya. Oleh sebab itu, ketiga bentuk itu dapat dibentuk menjadi konstruksi pertanggungan jawab, kewargaan negara, dan menyebarkan luas.

Kita tahu bahwa suatu bentuk dikatakan bentuk majemuk apabila unsur - unsurnya pekat dan padu. Sebaliknya, apabila unsur - unsurnya longgar tidak lagi dikatakan sebagai bentuk majemuk, tetapi frase. Dengan demikian, pendapat pertamalah yang tepat, yaitu pendapat yang memperlakukan unsur - unsur bentuk majemuk sebagai satu kesatuan.

2.7 Peristiwa Morfofonemik

Proses morfofonemik adalah peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfonemik dalam bahasa Indonesia hanya terjadi dalam pertemuan realisasi morfem dasar (morfem) dengan realisasi afiks (morfem), baik prefiks, sufiks, infiks, maupun konfiks (Kridalaksana, 2007).

Proses morfofonemik tersebut ialah proses perubahan fonem, proses penghilangan fonem, dan proses penambahan fonem.

  1. Proses perubahan fonem, contoh :

meN- +paksa Memaksa

Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawalan /p/, /b/, /f/, /v/.

meN- +dapat Mendapat

Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /t/, /d/, dan /s/. Fonem /s/ di sini hanya khusus bagi beberapa bentuk dasar yang berasal dari bahasa asing yang masih mempertahankan keasingannya.

meN- +sapu Menyapu

Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi /ny/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /s/, /sy/, /c/, dan /j/.

meN- +kutip Mengutip

Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /k/, /g/, /x/, /h/, dan fonem vokal.

  1. Proses penghilangan fonem, contoh :

meN-+nikah menikah

Bergabungnya morfem {meN-} dengan bentuk dasarnya, dapat terjadi penghilangan fonem. Apabila bertemu dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l/, /r/, /m/, /n/, dan /w/, terjadi penghilangan fonem /N/ pada morfem {meN-} tersebut.
meN-i+nikah menikahi

Bergabungnya morfem afiks {meN-i} dan {meN-kan} apabila bertemu dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l/, /r/, /m/, /n/, dan /w/, juga terjadi penghilangan fonem /N/ pada morfem {meN-i} dan {meN-kan} tersebut.

  1. Proses penambahan fonem, contoh :

meN- + bom mengebom

Proses penambahan fonem antara lain terjadi sebagai akibat pertemuan morfem {meN-} dengan bentuk dasarnya yang terdiri dari satu suku. Fonem tambahannya ialah /ə/. Sehingga {meN-} berubah menjadi {menge-}.

peN- + bom pengebom

Proses penambahan fonem /ə/ terjadi juga sebagai akibat pertemuan morfem {peN-} dengan bentuk dasarnya yang terdiri dari satu suku sehingga morfem {peN-} berubah menjadi {penge-}.

2.8 Problem Proses Reduplikasi

Pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan mengulang bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. (Soedjito,1995:109)

Contoh :

Mondar – mandir merupakan kata ulang semu yang sebenarnya bukanlah bentuk dari proses pengulangan, karena bentuk itu sendiri sudah merupakan bentuk dasarnya.

Mobil mobil – mobil mobil – mobilan

Mobil merupakan kata dasar, mobil – mobil merupakan pengulangan dari mobil, lalu mobil – mobilan merupakan pengulangan yang diikuti oleh sufiks –an. Ini merupakan kata ulang berimbuhan.

Gerak – gerik Di samping bolak-balik terdapat kata kebalikan, sebaliknya, dibalik, dan membalik. Dari perbandingan itu, dapat disimpulkan bahwa kata bolak-balik terbentuk dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan bunyi dari /a/ menjadi /o/, dan dari /i/ menjadi /a/. Ini merupakan kata ulang berubah bunyi.

2.9 Problema Proses Abreviasi

Abreviasi merupakan proses penanggalan satu atau beberapa bagian kata atau kombinasi kata sehingga jadilah bentuk baru. Kata lain abreviasi ialah pemendekan.

Dalam abreviasi banyak macamnya yaitu, singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf.

Contoh :

FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan), contoh ini merupakan bagian dari contoh singkatan, dalam bahasa Indonesia singkatan tetap dipergunakan untuk memberikan kekhasan pada sesuatu hal atau benda. Namun, terkadang singkatan yang digunakan kurang tepat dan kurang dapat dipahami oleh orang banyak, dan hanya dipahami oleh sebagian orang saja.

Prof. (Profesor), merupakan contoh dari bagian penggalan, proses pemendekan yang dihilangkan salah satu bagian dari kata.

g ( gram ), merupakan contoh dari bagian lambang huruf, proses pemendekan yang menghasilkan satu huruf atau lebih yang menggambarkan konsep dasar kuantitas, satuan atau unsur.

Pada pemendekan / abreviasi banyak digunakan dalam penulisan – penulisan bahasa Indonesia, karena memang banyak memberikan kemudahan dalam penulisan dalam kalimat atau apapun bentuknya.

TEORI STRUKTURALISME GENETIK

Oleh :

Ferliana Ishadi

Penganalisisan Puisi Menggunakan Teori Strukturalisme Genetik

(Tahap Pembelajaran)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt, karena berkat rahmat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan pembuatan tugas mata kuliah Teori Sastra yang merupakan salah satu mata kuliah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Makalah ini disusun berdasarkan kemampuan penyusun untuk menyelesaikan penugasan ini, sesuai dengan literatur – literatur yang saya peroleh untuk “Analisis Antologi Puisi Lumpur” karya Ratih Sanggarwaty.

Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah membimbing mahasiswan – mahasiswanya, sehingga tugas ini dapat terselesaikan.

Demikian makalah ini disusun, mudah-mudahan bermanfaat untuk seluruh mahasiswa STKIP PGRI Bangkalan khususnya Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dan selaku penyusun dari makalah ini senantiasa mengharapkan kritik dan saran dari dosen dan rekan-rekan mahasiswa yang bersifat membangun terutama untuk kesempurnaan makalah ini.

Bangkalan, Januari 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang.................................................................................. 1

1.2 Batasan Masalah............................................................................... 1

1.3 Identifikasi Masalah.......................................................................... 2

BAB II. Pembahasan

2.1 Teori Strukturalisme Genetik.............................................................. 3

2.2 Analisis Unsur Instrinsik Puisi “Lumpur”........................................... 4

  1. Tema............................................................................................ 4
  2. Gaya Bahasa................................................................................ 4
  3. Rima............................................................................................ 5
  4. Diksi............................................................................................ 5
  5. Amanat........................................................................................ 5

2.3 Analisis Unsur Ekstrinsik Puisi “Lumpur”.......................................... 6

  1. Konsep Fakta Kemanusiaan......................................................... 6
  2. Konsep Subjek Kolektif............................................................... 7
  3. Pandangan Dunia......................................................................... 8
  4. Konsep Pemahaman Penjelasan................................................... 8

BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan........................................................................................ 10

3.2 Saran.................................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 14

LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teori Strukturalisme genetik merupakan teori yang berada di bawah payung sosiologi sastra.Strukturalisme genetik lahir dari seorang sosiolog Perancis, Lucien Goldmann.Kemunculan teori ini disebabkan karena adanya ketidakpuasan terhadap pendekatan strukturalisme, yang kajiannya hanya menitikberatkan pada unsur-unsur instrinsik tanpa memperhatikan unsur-unsur ekstrinsik sebuah karya sastra, sehingga karya sastra dianggap lepas dari konteks sosialnya.

Strukturalisme genetik mencoba untuk memperbaiki kelemahan pendekatan Strukturalisme, yaitu dengan memasukkan faktor genetik di dalam memahami karya sastra.Strukturalisme Genetik sering juga disebut strukturalisme historis, yang menganggap karya sastra khas dianalisis dari segi historis.Goldmann bermaksud menjembatani jurang pemisah antara pendekatan strukturalisme (intrinsik) dan pendekatan sosiologi (ekstrinsik).

1.2 Batasan Masalah

Dalam pembahasan makalah saya kali ini hanya akan membahasa tentang unsur intrinsik pada sampel puisi yang saya ambil dan unsur ekstrinsik yang dikembangkan dalam strukturalisme genetik pada sampel puisi yang sama tersebut.

Unsur intrinsik :

  1. Tema
  2. Gaya Bahasa
  3. Rima
  4. Diksi
  5. Amanat

Unsur ekstrinsik :

  1. Konsep fakta kemanusiaan
  2. Konsep subjek kolektif
  3. Pandangan dunia
  4. Konsep pemahaman-penjelasan

1.3 Identifikasi Masalah

Pengidentifikasian yang akan kita lakukan adalah mengenai bagian – bagian yang ada pada unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik, disesuaikan dengan bahan dan sumber yang ada.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori Strukturalisme Genetik

Teori Strukturalisme genetik merupakan teori yang berada di bawah payung sosiologi sastra.Strukturalisme genetik lahir dari seorang sosiolog Perancis, Lucien Goldmann.Kemunculan teori ini disebabkan karena adanya ketidakpuasan terhadap pendekatan strukturalisme, yang kajiannya hanya menitikberatkan pada unsur-unsur instrinsik tanpa memperhatikan unsur-unsur ekstrinsik sebuah karya sastra, sehingga karya sastra dianggap lepas dari konteks sosialnya.

Teori strukturalisme bukan teori yang membahas tentang perbandingan antara dua puisi, melainkan teori yang cakupannya lebih luas daripada teori strukturalisme. Teori strukturalisme genetik merupakan teori tentang konsep – konsep sosial yang mendukung penciptaan karya sastra tersebut meskipun tidak semua aspek sosial akan mempengaruhi pengarang ataupun hasil karyanya. Penyebutan strukturalisme genetik merupakan cerminan bahwa strukturalisme genetik adalah penyempurnaan kembali dari generasi sebelumnya, yakni teori strukturalisme.

Strukturalisme genetik mencoba memperbaiki kelemahan yang ada dalam teori strukturalisme, yaitu dengan memasukkan faktor genetik di dalam memahami karya sastra.Strukturalisme genetik juga sering disebut sebagai strukturalisme historis, yang menganggap karya sastra khas dianalisis dari segi historis.Goldmann bermaksud menjembatani jurang pemisah antara pendekatan instrinsik (strukturalisme) dan pendekatan sosiologi (ekstrinsik).Pemahaman terhadap karya sastra adalah usaha memahami perpaduan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk atau totalitas kemaknaan.

Hakikatnya karya sastra selalu berkaitan dengan masyarakat dan sejarah yang turut mengkondisikan penciptaan karya sastra, walaupun tidak sepenuhnya di bawah pengaruh faktor luar tersebut.Menurut Goldmann, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan. Goldmann percaya pada adanya homologi antara struktur karya sastra dengan struktur masyarakat sebab keduanya merupakan produk di aktivitas strukturasi yang sama.

Dari sudut pandang sosiologi sastra, strukturalisme genetik memiliki arti penting, karena menempatkan karya sastra sebagai data dasar penelitian,memandangnya sebagai suatu sistem makna yang berlapis-lapis yang merupakan suatu totalitas yang tak dapat dipisahkan.

2.2 Analisis Unsur Instrinsik Puisi “Lumpur”

Analisis unsur instrinsik pada puisi “Lumpur” karya Ratih Sang ini akan saya bahas lebih lanjut sesuai sumber dan pembahasan yang memadai, sesuai dengan penerapan teori yang saya ambil, Strukturalisme Genetik.

  1. a. Tema

Tema yang diangkat oleh sang pengarang adalah tentang gambaran manusia – manusia yang sengsara di negaranya sendiri dan tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Hal itu disebabkan oleh pengkorupsian – pengkorupsian yang menjamur di negara ini. Koruptor yang dimaksud memang tidak dikatakan secara langsung, namun diibaratkan sebagai lumpur yang mempunyai kesamaan dengan koruptor tersebut, yaitu sama – sama senang menghisap apapun yang ada di dekatnya dan sama – sama kotornya.

  1. b. Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang dipergunakan oleh sang pengarang sangat mudah untuk telaah oleh pembacanya. Namun, di dalam gaya bahasa yang mudah dimengerti tersebut, sang pengarang tetap menggunakan majas dalam penyampaiannya, majas yang dituliskan oleh sang pengarang adalah majas alegori, yaitu tentang penggambaran suatu kejadian atau fenomena yang dilukiskan dengan cara kata – kata yang berkiasan.

  1. c. Rima

Rima adalah pengulangan bunyi yang sama dalam puisi, yang berfungsi menambah keindahan puisi tersebut.

Pada puisi “Lumpur” ini, sangat jelas terdapat perulangan bunyi diakhir larik sajak.Contohnya :

“Nurani nan perih tak berperi

Akankah kau tak tahu jua

Tamakmu menyengsarakan negeri

Rakusmu menenggelamkan impian mereka

………..”

Jelas terbaca bahwa diakhir larik sajak menimbulkan bunyi yang sama, yaitu, vokal i dan vokal a.

  1. d. Diksi

Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras dengan gagasan atau tema yang diambil oleh pengarang.

Diksi dalam puisi ini sudah tepat dan menggambarkan gagasan yang ingin disampaikan oleh pengarang, begitu juga dengan pilihan kata pada judul “Lumpur”, kata “Lumpur” tersebut sudah menggambarkan tentang tema korupsi yang ingin disampaikan oleh sang pengarang. Lumpur yang dimaksud adalah perilaku kotor yang dilakukan oleh para koruptor ataupun oleh para kriminal.

  1. e. Amanat

Amanat yang terkandung dalam puisi “Lumpur” ini adalah :

  1. Sebagai manusia yang mengemban tanggun jawab, seharusnya bisa bertanggung jawab sesuai dengan apa yang sudah dipercayakan terhadap dirinya
  2. Jadilah manusia yang berperasaan terhadap sesamanya, karena selain para pemimpin, negara ini masih memiliki rakyat yang memerlukan perlindungan, kesejahteraan dan kemakmuran.
  3. Berhentilah menyakiti diri sendiri dengan cara menjauhkan diri dari pekerjaan yang tidak halal.
  4. Berhentilah bersifat tamak.
  5. Berhentilah bersifat egois, mementingkan isi perut sendiri tanpa mementingkan kesengsaraan rakyatnya.

2.3 Analisis Unsur Ekstrinsik Puisi “Lumpur”

Analisis unsur ekstrinsik dalam strukturalisme genetik merupakan bahasan yang mencakup pada bidang sosiologi.Berikut ini adalah bahasan yang saya angkat sesuai dengan sumber dan pembahasan yang memadai.

  1. a. Konsep Fakta Kemanusiaan

Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktivitas atau perilaku manusia, baik yang verbal maupun fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan Aktivitas atau perilaku manusia harus menyesuaikan kehidupan dengan lingkungan sekitar.Individu-individu berkumpul membentuk suatu kelompok masyarakat.Dengan kelompok masyarakat manusia dapat memenuhi kebutuhan untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Dengan meminjam teori psikologi Pioget, Goldmann menganggap bahwa manusia dan lingkungan sekitarnya selalu berada dalam proses strukturasi timbal balik yang saling bertentangan tetapi yang sekaligus saling mengisi. Oleh karena itu, fakta kemanusiaan merupakan struktur yang bermakna.Damono (1979) berpendapat, untuk menelaah fakta-fakta kemanusiaan baik dalam strukturnya yang esensial maupun dalam kenyataannya yang kongkrit membutuhkan sutau metode yang serentak bersifat sosiologis dan historis.Dengan fakta kemanusiaan dapat diketahui bahwa sastra merupakan cermin dari pelbagai segi struktur sosial maupun hubungan kekeluargaan.

Dengan berinteraksi dengan dunia luar atau lingkungan sekitar, maka manusia baru akan bisa merasakan dan memikirkan tentang suatu hal baik secara individu maupun sosial, yang kemudian dituangkan ke dalam karya – karya sastra sesuai dengan apa yang dirasakan, dilihat dan dialami.

Dalam puisi “Lumpur” ini, sang pengarang menuangkan segala fakta – fakta kemanusiaan yang terjadi di sekitarnya, yakni negara sebagai objeknya. Dia menggambarkan fakta kemanusiaan yang sedang terjadi di negaranya, yakni kesengsaraan manusia dan tertindasnya manusia di negaranya tersebut. Sudut pandang yang dituangkan dalam puisi ini, adalah secara keadaan sosial atau secara menyeluruh (luas) bukan secara individual sang pengarang. Konsep fakta kemanusiaan dalam puisi ini sangat tergambar jelas dari tiap – tiap kalimat per-baitnya, misalnya pada bait ke-empat yang berbunyi “rakusmu menenggelamkan impian mereka..”, kalimat tersebut menjelaskan tentang ketertindasan dan ketidak-adilan yang dirasakan oleh rakyat dari pemimpin – pemimpinya yang tidak arif dan tidak bijaksana, hal ini merupakan contoh dari fakta – fakta kemanusiaan yang terjadi nyata di negara sang pengarang, yang merupakan lingkungannya.

  1. b. Konsep Subjek Kolektif

Subjek kolektif adalah kumpulan individu-individu yang membentuk satu kesatuan beserta aktivitasnya.

Subjek kolektif merupakan bagian dari fakta kemanusiaan selain subjek individual.Fakta kemanusiaan muncul karena aktivitas manusia sebagai subjek.Pengarang adalah subjek yang hidup di tengah-tengah masyarakat.Oleh karenanya di dalam masyarakat terdapat fakta kemanusiaan.Karya sastra diciptakan oleh pengarang.Dengan demikian karya sastra lebih merupakan duplikasi fakta kemanusiaan yang telah diramu oleh pengarang.Semua gagasan pengarang dapat dikatakan sebagai perwakilan dari kelompok sosial. Oleh sebab itu pengkajian terhadap karya sastra tidak dapat dipisahkan dengan pengarang untuk mendapat makna yang menyeluruh.

Penciptaan puisi “Lumpur” ini merupakan satu diantara banyak puisi yang bergagaskan tentang fakta – fakta kemanusiaan di negara ini. Ratih Sanggarwaty yang merupakan seorang entertaiment, menciptakan puisi ini sesuai dengan apa yang dia rasa, dia perhatikan dan dia pikirkan. Dia menyampaikan puisi ini sesuai dengan rasa kemanusiaannya sendiri, karena dia adalah bagian dari subjek puisinya yang mengamati secara langsung fakta – fakta tersebut.Ratih Sanggarwaty juga berperan sebagai penyalur keadaan nyata yang ada, yang kemudian dia tuliskan dalam puisi berjudul “Lumpur” ini.

  1. c. Pandangan Dunia

Konsep pandangan dunia merupakan konsep yang menghubungkan karya sastra dengan masyarakat di sekelilingnya.Karya sastra merupakan sarana pengarang untuk menghubungkan dirinya dengan dunia luar melalui serangkaian sajak yang pengarang tuliskan dalam tiap baitnya. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan oleh Ratih Sanggarwaty, dia ingin menyampaikan amanat – amanat yang tersembunyi dalam puisinya tersebut. Namun, suatu karya sastra tidak seluruhnya dapat diterima oleh pembaca atau kelompok sosial lain, karena terkadang karya sastra yang terlalu menyinggung pada satu orang ataupun organisasi pasti akan menimbulkan pertentangan dan itu akan sangat menyulitkan sang pengarang. Ratih Sanggarwaty menuliskan puisi merupakan salah satu puisi yang mengkritik keadaan sosial dan keadaan akhlak pemimpin di negara kita.

  1. d. Konsep Pemahaman – Penjelasan

Metode dialektik mengembangkan dua konsep, yaitu “Pemahaman-penjelasan” dan “Keseluruhan-bagian.”Pemahaman adalah pendeskripsian struktur objek yang dipelajari, sedangkan penjelasan adalah usaha menggabungkan ke dalam struktur yang lebih besar (Goldmann).Pada dasarnya pengertian konsep “Pemahaman-penjelasan” sangat berkait dengan konsep “Keseluruhan-bagian.” Dalam strukturalisme genetik memandang karya sastra tidak hanya sebagai yang memilki struktur yang lepas-lepas, melainkan adanya campur tangan faktor-faktor lain (faktor sosial) dalam proses penciptaannya. Karya sastra dipahami sebagai totalitas perpaduan struktur dalam dan struktur luar.

Penjelasan pada isi puisi “Lumpur” karya Ratih Sanggarwaty jelas menggambarkan faktor sosial masyarakat dan faktor individu. Faktor sosial yang terkandung di dalamnya adalah kepedulian sang pengarang terhadap keadaan sosial di sekitarnya, yang disebabkan oleh masalah – masalah kemanusiaan di negaranya, sedangkan faktor individu yang nampak di puisi adalah cerminan perasaan dan pikiran sang pengarang terhadap masalah – masalah kemanusiaan yang tidak kunjung terhenti di negaranya, sehingga terbentuklah amanat yang disampaikan pengarangnya untuk para pembaca sebagai bentuk pandangan dunia terhadap karyanya tersebut.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Teori Strukturalisme genetik merupakan teori yang berada di bawah payung sosiologi sastra.Strukturalisme genetik lahir dari seorang sosiolog Perancis, Lucien Goldmann.Kemunculan teori ini disebabkan karena adanya ketidakpuasan terhadap pendekatan strukturalisme, yang kajiannya hanya menitikberatkan pada unsur-unsur instrinsik tanpa memperhatikan unsur-unsur ekstrinsik sebuah karya sastra, sehingga karya sastra dianggap lepas dari konteks sosialnya.

Teori strukturalisme bukan teori yang membahas tentang perbandingan antara dua puisi, melainkan teori yang cakupannya lebih luas daripada teori strukturalisme. Teori strukturalisme genetik merupakan teori tentang konsep – konsep sosial yang mendukung penciptaan karya sastra tersebut meskipun tidak semua aspek sosial akan mempengaruhi pengarang ataupun hasil karyanya. Penyebutan strukturalisme genetik merupakan cerminan bahwa strukturalisme genetik adalah penyempurnaan kembali dari generasi sebelumnya, yakni teori strukturalisme.

  1. Unsur Instrinsik Puisi “Lumpur”
  • Tema : Tema yang diangkat oleh sang pengarang adalah tentang gambaran manusia – manusia yang sengsara di negaranya sendiri dan tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Hal itu disebabkan oleh pengkorupsian – pengkorupsian yang menjamur di negara ini.
  • Gaya Bahasa : Gaya bahasa yang dipergunakan oleh sang pengarang sangat mudah untuk telaah oleh pembacanya. Namun, di dalam gaya bahasa yang mudah dimengerti tersebut, sang pengarang tetap menggunakan majas dalam penyampaiannya, majas yang dituliskan oleh sang pengarang adalah majas alegori, yaitu tentang penggambaran suatu kejadian atau fenomena yang dilukiskan dengan cara kata – kata yang berkiasan.
  • Rima : Rima adalah pengulangan bunyi yang sama dalam puisi, yang berfungsi menambah keindahan puisi tersebut.Pada puisi “Lumpur” ini, sangat jelas terdapat perulangan bunyi diakhir larik sajak. Terbaca bahwa diakhir larik sajak menimbulkan bunyi yang sama, yaitu, vokal i dan vokal a.
  • Diksi

Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras dengan gagasan atau tema yang diambil oleh pengarang.

Diksi dalam puisi ini sudah tepat dan menggambarkan gagasan yang ingin disampaikan oleh pengarang, begitu juga dengan pilihan kata pada judul “Lumpur”, kata “Lumpur” tersebut sudah menggambarkan tentang tema korupsi yang ingin disampaikan oleh sang pengarang. Lumpur yang dimaksud adalah perilaku kotor yang dilakukan oleh para koruptor ataupun oleh para kriminal.

  • Ø Amanat

Amanat yang terkandung dalam puisi “Lumpur” ini adalah :

  1. Sebagai manusia yang mengemban tanggun jawab, seharusnya bisa bertanggung jawab sesuai dengan apa yang sudah dipercayakan terhadap dirinya
  2. Jadilah manusia yang berperasaan terhadap sesamanya, karena selain para pemimpin, negara ini masih memiliki rakyat yang memerlukan perlindungan, kesejahteraan dan kemakmuran.
  3. Berhentilah menyakiti diri sendiri dengan cara menjauhkan diri dari pekerjaan yang tidak halal.
  4. Berhentilah bersifat tamak.
  5. Berhentilah bersifat egois, mementingkan isi perut sendiri tanpa mementingkan kesengsaraan rakyatnya.

  1. Analisis Unsur Ekstrinsik Puisi “Lumpur”
  • Konsep Fakta Kemanusiaan : Dalam puisi “Lumpur” ini, sang pengarang menuangkan segala fakta – fakta kemanusiaan yang terjadi di sekitarnya, yakni negara sebagai objeknya. Dia menggambarkan fakta kemanusiaan yang sedang terjadi di negaranya, yakni kesengsaraan manusia dan tertindasnya manusia di negaranya tersebut. Sudut pandang yang dituangkan dalam puisi ini, adalah secara keadaan sosial atau secara menyeluruh (luas) bukan secara individual sang pengarang. Konsep fakta kemanusiaan dalam puisi ini sangat tergambar jelas dari tiap – tiap kalimat per-baitnya, misalnya pada bait ke-empat yang berbunyi “rakusmu menenggelamkan impian mereka..”, kalimat tersebut menjelaskan tentang ketertindasan dan ketidak-adilan yang dirasakan oleh rakyat dari pemimpin – pemimpinya yang tidak arif dan tidak bijaksana, hal ini merupakan contoh dari fakta – fakta kemanusiaan yang terjadi nyata di negara sang pengarang, yang merupakan lingkungannya.
  • Konsep Subjek Kolektif : Penciptaan puisi “Lumpur” ini merupakan satu diantara banyak puisi yang bergagaskan tentang fakta – fakta kemanusiaan di negara ini. Ratih Sanggarwaty yang merupakan seorang entertaiment, menciptakan puisi ini sesuai dengan apa yang dia rasa, dia perhatikan dan dia pikirkan. Dia menyampaikan puisi ini sesuai dengan rasa kemanusiaannya sendiri, karena dia adalah bagian dari subjek puisinya yang mengamati secara langsung fakta – fakta tersebut. Ratih Sanggarwaty juga berperan sebagai penyalur keadaan nyata yang ada, yang kemudian dia tuliskan dalam puisi berjudul “Lumpur” ini.
  • Pandangan Dunia : konsep pandangan dunia merupakan konsep yang menghubungkan karya sastra dengan masyarakat di sekelilingnya. Karya sastra merupakan sarana pengarang untuk menghubungkan dirinya dengan dunia luar melalui serangkaian sajak yang pengarang tuliskan dalam tiap baitnya. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan oleh Ratih Sanggarwaty, dia ingin menyampaikan amanat – amanat yang tersembunyi dalam puisinya tersebut. Namun, suatu karya sastra tidak seluruhnya dapat diterima oleh pembaca atau kelompok sosial lain, karena terkadang karya sastra yang terlalu menyinggung pada satu orang ataupun organisasi pasti akan menimbulkan pertentangan dan itu akan sangat menyulitkan sang pengarang. Ratih Sanggarwaty menuliskan puisi merupakan salah satu puisi yang mengkritik keadaan sosial dan keadaan akhlak pemimpin di negara kita.
  • Konsep Pemahaman Penjelasan : Penjelasan pada isi puisi “Lumpur” karya Ratih Sanggarwaty jelas menggambarkan faktor sosial masyarakat dan faktor individu. Faktor sosial yang terkandung di dalamnya adalah kepedulian sang pengarang terhadap keadaan sosial di sekitarnya, yang disebabkan oleh masalah – masalah kemanusiaan di negaranya, sedangkan faktor individu yang nampak di puisi adalah cerminan perasaan dan pikiran sang pengarang terhadap masalah – masalah kemanusiaan yang tidak kunjung terhenti di negaranya, sehingga terbentuklah amanat yang disampaikan pengarangnya untuk para pembaca sebagai bentuk pandangan dunia terhadap karyanya tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Sanggarwaty, Ratih. 2006. “Surat Untuk Ayah”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

pusatbahasaalazhar.wordpress.com.2012. “Teori Strukturalisme Genetik”.26 Januari 2012.

LAMPIRAN

  1. A. Puisi “Lumpur”

Lumpur

Nurani nan perih tak berperi

Akankah kau tak tahu jua

Tamakmu menyengsarakan negeri

Rakusmu menenggelamkan impian mereka

Terbayangkah isi perutmu mengalir lumpur panas itu

Menenggelamkan parumu

Merusak jantungmu

Surabaya, 11 Agustus 2006


  1. B. Biografi Pengarang

Ratih Sanggarwaty adalah top model dan peragawati terkenal Indonesia era ’90-an yang lahir di Ngawi, 8 Desember 1962. Ibu dari tiga orang putri ini sejak tahun 2003 menjabat sebagai Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Ratih Sang. Ia adalah juga salah satu penggagas dan redaktur ahli pada Majalah NOOR sampai sekarang. Dalam dunia penulisan, istri dari Isman Budisepta Zen ini telah menerbitkan delapan buku. Saat ini, selain melewati hari – harinya sebagai presenter dan mederator di layar kaca maupun berbagai seminar, ia terus menulis puisi yang sarat dengan tema religius dan perjuangan perempuan. Surat Untuk Ayah adalah kumpulan puisi kedua Ratih Sang yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.



(Teori yang saya paparkan mungkin kurang sempurna ataupun masih ada kesalahan, mohon dimaklumi, Terima Kasih)

Sabtu, 03 Maret 2012

LEGENDA PESUT MAHAKAM

Di Kalimanatan Timur terdapat sebuah sungai yang terkenal yaitu Sungai Mahakam. Di sungai tersebut terdapat ikan yang sangat khas bentuknya yaitu Pesut Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) adalah lumba-lumba air tawar Indonesia. Tubuh tegap, sirip punggung kecil & segitiga serta kepala bulat/tumpul dgn mata yg kecil. Tergolong lumba-lumba kecil, dgn panjang dewasa 2,0 – 2,75 m, bayi pesut 1,0 m. Pesut tdk terlalu aktif, terkadang melompat rendah). Sebenarnya pesut bukanlah ikan tetapi mamalia air sebagaimana Lumba-lumba dan Paus. Menurut penduduk sekitar sungai tersebut Pesut bukanlah sembarang ikan tetapi adalah jelmaan manusia.
Ceritanya pada jaman dahulu kala di rantau Mahakam, terdapat sebuah dusun yang didiami oleh beberapa keluarga. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah sebagai petani maupun nelayan. Setiap tahun setelah musim panen, penduduk dusun tersebut biasanya mengadakan pesta adat yang diisi dengan beraneka macam pertunjukan ketangkasan dan kesenian.
Ditengah masyarakat yang tinggal di dusun tersebut, terdapat suatu keluarga yang hidup rukun dan damai dalam sebuah pondok yang sederhana. Mereka terdiri dari sepasang suami-istri dan dua orang putra dan putri. Kebutuhan hidup mereka tidak terlalu sukar untuk dipenuhi karena mereka memiliki kebun yang ditanami berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Begitu pula segala macam kesulitan dapat diatasi dengan cara yang bijaksana, sehingga mereka hidup dengan bahagia selama bertahun-tahun.
Pada suatu ketika, sang ibu terserang oleh suatu penyakit. Walau telah diobati oleh beberapa orang tabib, namun sakit sang ibu tak kunjung sembuh pula hingga akhirnya ia meninggal dunia. Sepeninggal sang ibu, kehidupan keluarga ini mulai tak terurus lagi. Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam karena kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayah menjadi pendiam dan pemurung, sementara kedua anaknya selalu diliputi rasa bingung, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Keadaan rumah dan kebun mereka kini sudah tak terawat lagi. Beberapa sesepuh desa telah mencoba menasehati sang ayah agar tidak larut dalam kesedihan, namun nasehat-nasehat mereka tak dapat memberikan perubahan padanya. Keadaan ini berlangsung cukup lama.
Suatu hari di dusun tersebut kembali diadakan pesta adat panen. Berbagai pertunjukan dan hiburan kembali digelar. Dalam suatu pertunjukan ketangkasan, terdapatlah seorang gadis yang cantik dan mempesona sehingga selalu mendapat sambutan pemuda-pemuda dusun tersebut bila ia beraksi. Mendengar berita yang demikian itu, tergugah juga hati sang ayah untuk turut menyaksikan bagaimana kehebatan pertunjukan yang begitu dipuji-puji penduduk dusun hingga banyak pemuda yang tergila-gila dibuatnya.
Malam itu adalah malam ketujuh dari acara keramaian yang dilangsungkan. Perlahan-lahan sang ayah berjalan mendekati tempat pertunjukan dimana gadis itu akan bermain. Sengaja ia berdiri di depan agar dapat dengan jelas menyaksikan permainan serta wajah sang gadis. Akhirnya pertunjukan pun dimulai. Berbeda dengan penonton lainnya, sang ayah tidak banyak tertawa geli atau memuji-muji penampilan sang gadis. Walau demikian sekali-sekali ada juga sang ayah tersenyum kecil. Sang gadis melemparkan senyum manisnya kepada para penonton yang memujinya maupun yang menggodanya. Suatu saat, akhirnya bertemu jua pandangan antara si gadis dan sang ayah tadi. Kejadian ini berulang beberapa kali, dan tidak lah diperkirakan sama sekali kiranya bahwa terjalin rasa cinta antara sang gadis dengan sang ayah dari dua orang anak tersebut.
Demikianlah keadaannya, atas persetujuan kedua belah pihak dan restu dari para sesepuh maka dilangsungkanlah pernikahan antara mereka setelah pesta adat di dusun tersebut usai. Dan berakhir pula lah kemuraman keluarga tersebut, kini mulailah mereka menyusun hidup baru. Mereka mulai mengerjakan kegiatan-kegiatan yang dahulunya tidak mereka usahakan lagi. Sang ayah kembali rajin berladang dengan dibantu kedua anaknya, sementara sang ibu tiri tinggal di rumah menyiapkan makanan bagi mereka sekeluarga. Begitulah seterusnya sampai berbulan-bulan lamanya hingga kehidupan mereka cerah kembali.
Dalam keadaan yang demikian, tidak lah diduga sama sekali ternyata sang ibu baru tersebut lama kelamaan memiliki sifat yang kurang baik terhadap kedua anak tirinya. Kedua anak itu baru diberi makan setelah ada sisa makanan dari ayahnya. Sang ayah hanya dapat memaklumi perbuatan istrinya itu, tak dapat berbuat apa-apa karena dia sangat mencintainya. Akhirnya, seluruh rumah tangga diatur dan berada ditangan sang istri muda yang serakah tersebut. Kedua orang anak tirinya disuruh bekerja keras setiap hari tanpa mengenal lelah dan bahkan disuruh mengerjakan hal-hal yang diluar kemampuan mereka.
Pada suatu ketika, sang ibu tiri telah membuat suatu rencana jahat. Ia menyuruh kedua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di hutan.
“Kalian berdua hari ini harus mencari kayu bakar lagi!” perintah sang ibu, “Jumlahnya harus tiga kali lebih banyak dari yang kalian peroleh kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunya banyak dikumpulkan. Mengerti?!”
“Tapi, Bu…” jawab anak lelakinya, “Untuk apa kayu sebanyak itu…? Kayu yang ada saja masih cukup banyak. Nanti kalau sudah hampir habis, barulah kami mencarinya lagi…”
“Apa?! Kalian sudah berani membantah ya?! Nanti kulaporkan ke ayahmu bahwa kalian pemalas! Ayo, berangkat sekarang juga!!” kata si ibu tiri dengan marahnya.
Anak tirinya yang perempuan kemudian menarik tangan kakaknya untuk segera pergi. Ia tahu bahwa ayahnya telah dipengaruhi sang ibu tiri, jadi sia-sia saja untuk membantah karena tetap akan dipersalahkan jua. Setelah membawa beberapa perlengkapan, berangkatlah mereka menuju hutan. Hingga senja menjelang, kayu yang dikumpulkan belum mencukupi seperti yang diminta ibu tiri mereka. Terpaksa lah mereka harus bermalam di hutan dalam sebuah bekas pondok seseorang agar dapat meneruskan pekerjaan mereka esok harinya. Hampir tengah malam barulah mereka dapat terlelap walau rasa lapar masih membelit perut mereka.
Esok paginya, mereka pun mulai mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya. Menjelang tengah hari, rasa lapar pun tak tertahankan lagi, akhirnya mereka tergeletak di tanah selama beberapa saat. Dan tanpa mereka ketahui, seorang kakek tua datang menghampiri mereka.
“Apa yang kalian lakukan disini, anak-anak?!” tanya kakek itu kepada mereka. Kedua anak yang malang tersebut lalu menceritakan semuanya, termasuk tingkah ibu tiri mereka dan keadaan mereka yang belum makan nasi sejak kemarin hingga rasanya tak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaan.
“Kalau begitu…, pergilah kalian ke arah sana.” kata si kakek sambil menunjuk ke arah rimbunan belukar, “Disitu banyak terdapat pohon buah-buahan. Makanlah sepuas-puasnya sampai kenyang. Tapi ingat, janganlah dicari lagi esok harinya karena akan sia-sia saja. Pergilah sekarang juga!”
Sambil mengucapkan terima kasih, kedua kakak beradik tersebut bergegas menuju ke tempat yang dimaksud. Ternyata benar apa yang diucapkan kakek tadi, disana banyak terdapat beraneka macam pohon buah-buahan. Buah durian, nangka, cempedak, wanyi, mangga dan pepaya yang telah masak tampak berserakan di tanah. Buah-buahan lain seperti pisang, rambutan dan kelapa gading nampak bergantungan di pohonnya. Mereka kemudian memakan buah-buahan tersebut hingga kenyang dan badan terasa segar kembali. Setelah beristirahat beberapa saat, mereka dapat kembali melanjutkan pekerjaan mengumpulkan kayu hingga sesuai dengan yang diminta sang ibu tiri.
Menjelang sore, sedikit demi sedikit kayu yang jumlahnya banyak itu berhasil diangsur semuanya ke rumah. Mereka kemudian menyusun kayu-kayu tersebut tanpa memperhatikan keadaan rumah. Setelah tuntas, barulah mereka naik ke rumah untuk melapor kepada sang ibu tiri, namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat isi rumah yang telah kosong melompong.
Ternyata ayah dan ibu tiri mereka telah pergi meninggalkan rumah itu. Seluruh harta benda didalam rumah tersebut telah habis dibawa serta, ini berarti mereka pergi dan tak akan kembali lagi ke rumah itu. Kedua kakak beradik yang malang itu kemudian menangis sejadi-jadinya. Mendengar tangisan keduanya, berdatanganlah tetangga sekitarnya untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Mereka terkejut setelah mengetahui bahwa kedua ayah dan ibu tiri anak-anak tersebut telah pindah secara diam-diam.
Esok harinya, kedua anak tersebut bersikeras untuk mencari orangtuanya. Mereka memberitahukan rencana tersebut kepada tetangga terdekat. Beberapa tetangga yang iba kemudian menukar kayu bakar dengan bekal bahan makanan bagi perjalanan kedua anak itu. Menjelang tengah hari, berangkatlah keduanya mencari ayah dan ibu tiri mereka.
Telah dua hari mereka berjalan namun orangtua mereka belum juga dijumpai, sementara perbekalan makanan sudah habis. Pada hari yang ketiga, sampailah mereka di suatu daerah yang berbukit dan tampaklah oleh mereka asap api mengepul di kejauhan. Mereka segera menuju ke arah tempat itu sekedar bertanya kepada penghuninya barangkali mengetahui atau melihat kedua orangtua mereka.
Mereka akhirnya menjumpai sebuah pondok yang sudah reot. Tampak seorang kakek tua sedang duduk-duduk didepan pondok tersebut. Kedua kakak beradik itu lalu memberi hormat kepada sang kakek tua dan memberi salam.
“Dari mana kalian ini? Apa maksud kalian hingga datang ke tempat saya yang jauh terpencil ini?” tanya sang kakek sambil sesekali terbatuk-batuk kecil.
“Maaf, Tok.” kata si anak lelaki, “Kami ini sedang mencari kedua urangtua kami. Apakah Datok pernah melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang masih muda lewat disini?”
Sang kakek terdiam sebentar sambil mengernyitkan keningnya, tampaknya ia sedang berusaha keras untuk mengingat-ingat sesuatu.
“Hmmm…, beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami-istri yang datang kesini.” kata si kakek kemudian, “Mereka banyak sekali membawa barang. Apakah mereka itu yang kalian cari?”
“Tak salah lagi, Tok.” kata anak lelaki itu dengan gembira, “Mereka pasti urangtuha kami! Ke arah mana mereka pergi, Tok?”
“Waktu itu mereka meminjam perahuku untuk menyeberangi sungai. Mereka bilang, mereka ingin menetap diseberang sana dan hendak membuat sebuah pondok dan perkebunan baru. Cobalah kalian cari di seberang sana.”
“Terima kasih, Tok…” kata si anak sulung tersebut, “Tapi…, bisakah Datok mengantarkan kami ke seberang sungai?”
“Datok ni dah tuha… mana kuat lagi untuk mendayung perahu!” kata si kakek sambil terkekeh, “Kalau kalian ingin menyusul mereka, pakai sajalah perahuku yang ada ditepi sungai itu.”
Kakak beradik itu pun memberanikan diri untuk membawa perahu si kakek. Mereka berjanji akan mengembalikan perahu tersebut jika telah berhasil menemukan kedua orangtua mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka lalu menaiki perahu dan mendayungnya menuju ke seberang. Keduanya lupa akan rasa lapar yang membelit perut mereka karena rasa gembira setelah mengetahui keberadaan orangtua mereka. Akhirnya mereka sampai di seberang dan menambatkan perahu tersebut dalam sebuah anak sungai. Setelah dua hari lamanya berjalan dengan perut kosong, barulah mereka menemui ujung sebuah dusun yang jarang sekali penduduknya.
Tampaklah oleh mereka sebuah pondok yang kelihatannya baru dibangun. Perlahan-lahan mereka mendekati pondok itu. Dengan perasaan cemas dan ragu si kakak menaiki tangga dan memanggil-manggil penghuninya, sementara si adik berjalan mengitari pondok hingga ia menemukan jemuran pakaian yang ada di belakang pondok. Ia pun teringat pada baju ayahnya yang pernah dijahitnya karena sobek terkait duri, setelah didekatinya maka yakinlah ia bahwa itu memang baju ayahnya. Segera ia berlari menghampiri kakaknya sambil menunjukkan baju sang ayah yang ditemukannya di belakang. Tanpa pikir panjang lagi mereka pun memasuki pondok dan ternyata pondok tersebut memang berisi barang-barang milik ayah mereka.
Rupanya orangtua mereka terburu-buru pergi, sehingga di dapur masih ada periuk yang diletakkan diatas api yang masih menyala. Di dalam periuk tersebut ada nasi yang telah menjadi bubur. Karena lapar, si kakak akhirnya melahap nasi bubur yang masih panas tersebut sepuas-puasnya. Adiknya yang baru menyusul ke dapur menjadi terkejut melihat apa yang sedang dikerjakan kakaknya, segera ia menyambar periuk yang isinya tinggal sedikit itu. Karena takut tidak kebagian, ia langsung melahap nasi bubur tersebut sekaligus dengan periuknya.
Karena bubur yang dimakan tersebut masih panas maka suhu badan mereka pun menjadi naik tak terhingga. Dalam keadaan tak karuan demikian, keduanya berlari kesana kemari hendak mencari sungai. Setiap pohon pisang yang mereka temui di kiri-kanan jalan menuju sungai, secara bergantian mereka peluk sehingga pohon pisang tersebut menjadi layu. Begitu mereka tiba di tepi sungai, segeralah mereka terjun ke dalamnya. Hampir bersamaan dengan itu, penghuni pondok yang memang benar adalah orangtua kedua anak yang malang itu terheran-heran ketika melihat banyak pohon pisang di sekitar pondok mereka menjadi layu dan hangus.
Namun mereka sangat terkejut ketika masuk kedalam pondok dan mejumpai sebuah bungkusan dan dua buah mandau kepunyaan kedua anaknya. Sang istri terus memeriksa isi pondok hingga ke dapur, dan dia tak menemukan lagi periuk yang tadi ditinggalkannya. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada suaminya. Mereka kemudian bergegas turun dari pondok dan mengikuti jalan menuju sungai yang di kiri-kanannya banyak terdapat pohon pisang yang telah layu dan hangus.
Sesampainya di tepi sungai, terlihatlah oleh mereka dua makhluk yang bergerak kesana kemari didalam air sambil menyemburkan air dari kepalanya. Pikiran sang suami teringat pada rentetan kejadian yang mungkin sekali ada hubungannya dengan keluarga. Ia terperanjat karena tiba-tiba istrinya sudah tidak ada disampingnya. Rupanya ia menghilang secara gaib. Kini sadarlah sang suami bahwa istrinya bukanlah keturunan manusia biasa. Semenjak perkawinan mereka, sang istri memang tidak pernah mau menceritakan asal usulnya.
Tak lama berselang, penduduk desa datang berbondong-bondong ke tepi sungai untuk menyaksikan keanehan yang baru saja terjadi. Dua ekor ikan yang kepalanya mirip dengan kepala manusia sedang bergerak kesana kemari ditengah sungai sambil sekali-sekali muncul di permukaan dan menyemburkan air dari kepalanya. Masyarakat yang berada di tempat itu memperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut panas sehingga dapat menyebabkan ikan-ikan kecil mati jika terkena semburannya. Oleh masyarakat Kutai, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan Pasut atau Pesut. Sementara masyarakat di pedalaman Mahakam menamakannya ikan Bawoi.

dari www.legenda.org