Jumat, 16 November 2012

PUJANGGA BARU


A.     Awal Kelahiran Pujangga Baru
Pujangga Baru dilatarbelakangi semangat persatuan yang hidup dalam msyarakat Indonesia. Semangat ini dipelopori oleh kaum muda yang pada tanggal 28 Oktober 1928 telah mencetuskan Sumpah Pemuda. Sumpah sakti ini berbunyi sebagai berikut:
Sumpah Pemuda
1.    Kami putra dan putri Indonesia bertumpah darah satu Tanah Indonesia.
2.    Kami putra dan putri Indonesia berbangsa satu, bangsa Indonesia.
3.    Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia.
Ikrar sumpah pemuda ini mempengaruhi banyak bidang pergerakan. Gerakan tersebut dilaksanakan dalam berbagai bidang, misalnya sosial, pendidikan, budaya, dsb.
Pujangga Baru adalah salah satu gerakan dalam bidang kebudayaan yang di dalamnya mencakup sastra. Selain Pujangga Baru banyak media-media yang dimanfaatkan oleh para sastrawan untuk mengekspresikan idennya. Media-media tersebut antara lain Timbul dan Panji Pustaka. Keduanya memiliki rubrik khusus sastra. Pujangga Baru adalah satu-satunya majalah yang memuat karya sastra secara khusus pada waktu itu.
Majalah Pujangga Baru ini bertujuan untuk membawa atau menyebarkan semangat baru dalam lapangan kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan sosial yang tujuan akhirnya adalah terbentuknya persatuan bangsa. Hal ini nampak pada semboyan Pujangga Baru yang beberapa kali mengalami perubahan. Semboyan-semboyan tersebut antara lain:
Ø  Menuju dan berjuang untuk memajukan kesusastraan baru (mulai tahun 1933)
Ø  Pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan dan soal masyarakat umum (mulai tahun 1935)
Ø  Pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan Indonesia (mulai tahun 1936)
Mulai tahun 1933-1935 Pujangga Baru dipimpin oleh Armyn Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, dan Mr. Sumanang. Mulai tahun 1935-1938 Pujangga Baru dipimpin oleh Sugiarti, Mr. Amis Syarifuddin, Mr. S. Moh. Syah, Mr Sumanang, Dr. Ng. Purbacaraka, dan Sutan Takdir Alisyahbana. Sekretaris redaksi dipegang oleh Mr. S. Moh. Syah (1936-1937), Armyn Pane (1937-1938), dan W.J.S. Purwodarminto (akhir tahun 1938-pertangahan 1940). Selain tokoh-tokoh di atas, ada banyak tokoh lain yang membantu majalah ini. Toko-tokoh tersebut tersebar di seluruh Indonesia.

B.    Pujangga Baru sebagai Nama Angkatan
Pujangga Baru dengan latar belakangnya tidak diragukan memiliki karakteristik yang khusus. Karakter khusus ini berbeda dari angkatan Balai Pustaka yang merupaka angkatan pendahulunya. Karena karakteristik ini Pujangga Baru dapat dimasukkan dalam periode tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia. Karena laihir pada tahun tiga puluhan, angkatan ini juga disebut angkatan tiga puluhan.

1.     Pengaruh Pengaruh yang Terdapat dalam Angkatan Pujangga Baru
Sebagai sebuah gerakan baru pada waktu itu, perbedaan karakteristik Pujangga Baru pasti dilatarbelakangi oleh sejarah sebelumnya. Jika dirunut kebelakang, Pujangga Baru dipengaruhi setidak-tidaknya empat negeri, yaitu Belanda, India, Parsi, dan Jawa.
a.     Pengaruh dari Belanda
Pujangga Baru dipengaruhi angkatan 1880 dari negeri Belanda, yaitu De Tachtigers. Angkatan ini mengadakan revolusi besar di bidang kesusastraan Belanda. Hal itu sebagai reaksi atas “kesusastraan pendeta” dan kesenian sebelumnya yang bersifat lambat dan dikemudikan oleh pikiran yang berhati-hati.
Pelopor-pelopor gerakan ini adalah Willem Kloos, Lodewijk van Dyseel, Frederik van Eeden, dan Albert Verwey. Mereka menerbitkan majalah De Nieuwe Gids (Pandu Baru) pada tahun 1885. Syair-syair angkatan ini bersifat lirik-romantik dan pada umumnya berbentuk soneta. Pengaruh-pengaruh tersebut tampak jelas pada karya-karya Sutan Takdir Alisyahbana, Armyn Pane, dan J.E. Tatengkeng.
b.     Pengaruh India, Parsi, dan Jawa
Pengaruh ini nampak pada karya-karya Sanusi Pane dan Amir Hamzah.
2.     Angkatan Pujangga Baru dan Pelopornya
Sebuah angkatan sastra dilatarbelakangi ide yang merupakan antithesis dari ide sebelumnya. Sebuah ide merupakan motor penggerak sebuah pergerakan yang keluar dari manusia tertentu. Hal ini terjadi pula pada Pujangga Baru.
Pujangga Baru dipelopori oleh empat orang tokoh, yaitu Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armyn Pane, dan Amir Hamzah. Corak dan aliran Pujangga Baru nampak pada corak dan aliran keempat tokoh ini.
3.     Konsepsi-Konsepsi Pujangga Baru dalam Beberapa Bidang
Meskipun berada dalam satu angkatan dan media yang sama, ide dasar dari keempat tokoh-tokoh Pujangga Baru tidaklah sama. Ide mereka tentang berbagai hal bahkan bertentangan. Hal ini terjadi pada hal-hal berikut:
a.     Konsepsi Mengenai Semangat Masyarakat Baru
1)     Sutan Takdir Alisyahbana berpendapat bahwa agar bangsa Indonesia maju ke depan dan sederajat dengan bangsa-bangsa barat, masyarakat Indonesia yang statis itu harus diubah menjadi masyarakat yang dinamis seperti masyarakat barat. Dengan demikian faham-faham yang menyebabkan masyarakat barat maju seperti materialisme, intelektualisme, egoisme, dan individualisme harus juga dimiliki bangsa Indonesia. Sutan Takdir Alisyahbana juga berpendapat bahwa filsafat India yang cenderung mengajak untuk selaras dengan alam harus diganti dengan sikap menguasai alam. Hal ini bahkan tetap menjadi pandangan hidup dalam karya selanjutnya seperti pada sebuah kutipan keyakinan Hidayat dalam Kalah dan Menang.
... Kebudayaan yang aktif dan dinamis selalu akan menguasai kebudayaan yang lemah, yang sudah tua dan tiada sanggup memperbarui dirinya kembali. Dalam hubungan inilah ia sangat terpesona akan soal naik turunnya kebudayaan dan bagaimana kebudayaan-kebudayaan yang banyak itu pengaruh mempengaruhi sepanjang sejarah.
2)     Sanusi Pane berpendapat bahwa hidup harus mementingkan rohani dan keselarasan jasmani dengan alam. Pandangan ini dipengaruhi  ajaran mistik India.
b.     Konsepsi menganai kebudayaan Indonesia baru
1)     Sutan Takdir Alisyahbana berpendapat bahwa kebudayaan Indonesia harus terlahir dari semangat keindonesiaan, bukan merupakan sambungan dari kebudayaan Jawa, Sunda, Melayu, dan kebudayaaan suku-suku lain di Indonesia.
2)     Sanusi Pane berpendapat kebudayaan harus bersendikan kebudayaan lama dari timur yang diramu dengan kebudayaan maju dari barat
c.      Konsepsi mengenai seni
1)     Sutan Takdir Alisyahbana dengan tegas bersemboyan seni untuk masyarakat dan menolak semboyan seni untuk seni.
2)     Sanusi Pane lebih cenderung pada seni untuk seni atau l’art pour l’art. Akan tetapi secara umum semboyan Pujangga Baru adalah seni untuk masyarakat.
d.     Konsepsi mengenai kesusastraan baru
Dalam hal ini semua tokoh dalam Pujangga Baru sependapat bahwa kesusastraan Indonesia baru harus memancarkan jiwa yang dinamis, individualisme, dan tidak menghiraukan tradisi yang menghambat kemajuan

4.     Karakteristik Sastra Angkatan Pujangga Baru
Karya-karya angkatan Pujangga Baru meliputi berbagai genre sastra. Karya-karya tersebut dalam bentuk prosa, puisi, dan drama. Selain itu terdapat pula essay dan kritik. Namun, dua yang terakhir tidak akan dibahas pada bab ini.

a.     Prosa
Prosa Pujangga Baru terdiri atas roman, novel, dan cerpen. Istilah roman pada masa itu cenderung dibedakan dengan novel. Akan tetapi, penulis lebih cenderung untuk menyamakannya dengan alasan bahwa roman sekalipun adalah novel berdasarkan definisinya. Dengan demikian karena karakaterisktik ketiganya hampir sama – dalam hal unsur intrinsic dan ekstrinsiknya – karakteristik ketiganya akan ditulis dalam satu kesatuan karakateristik prosa.
Dari segi bahasa Pujangga Baru masih menggunakan gaya bahasa lama yang bersifat klise. Akan tetapi, di sisi lain Pujangga Baru banyak menggunakan gaya bahasa baru yang lebih hidup.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa dari pergaulan yang juga menyerap bahasa-bahasa daerah Nusantara. Pujangga Baru tidak menggunakan bahasa Melayu lama atau Melayu tinggi yang biasa digunakan di sekolah-sekolah. Selain itu, banyak istilah-istilah Belanda yang digunakan sehingga Pujangga Baru dikatakan kebelanda-belandaan.
Pesan yang disampaikan bersifat implicit. Hal ini berbeda dengan Balai Pustaka yang menyampaikan secara eksplisit. Gerakan cerita wajar dan berjalan dengan sendirinya. Kesimpulan dan penilaian dikembalikan pada pembaca.
Tokoh dalam Pujangga Baru lebih dinamis dan sudut penceritaan tidak terfokus pada satu tokoh saja. Selain itu, tokoh dalam Pujangga Baru dilukiskan terutama jalan pikiran dan kehidupan jiwa pelakunya. Hal ini berbeda dengan Balai Pustaka yang menceritakan keseluruhan gerak-gerik pelaku mulai awal sampai akhir.
Tema yang diangkat dalam Pujangga Baru tidak hanya seputar pertentang tua muda, masalah adat, poligami, kawin paksa, kebangsawanan, gaya hidup kebelanda-belandaan yang dikecam orang-orang tua yang merupakan tema sentral dalam Balai Pustaka. Pujangga Baru memiliki tema sentral perjuangan menuju cita-cita dan semangat kebangsaan. Karya Pujangga Baru berbicara tentang paham-paham dan nilai-nilai, misalnya politik, ekonomi, budaya, agama, dan sebagainya.
Jika dalam Balai Pustaka banyak berbicara tentang adat yang menunjukkan jiwa komunal masyarakat, Pujangga Baru lebih berbicara tentang individu yang bebas dalam menentukan hidupnya. Selain itu Pujangga Baru tidak lagi bersifat provinsialisme yang memecah-mecah berdasarkan suku dan wilayah. Hal ini ditunjukkan dengan perkawinan antar suku yang bersifat interinsular. Selain perkawinan tema juga menyangkut kehidupan kota dan desa.
Secara garis besar cerita prosa mengenai kehidupan real saat itu. Pujangga Baru tidak menulis tentang imajinasi fantastis seperti pada sastra lama yang masih juga ditemui pada Balai Pustaka.
Aliran Pujangga Baru adalah romantis-idealis. Hal ini berbeda dengan Balai Pustaka yang beraliran romantis-sentimentil. Pujangga Baru lebih banyak berbicara tentang keindahan dan perjuangan untuk sebuah cita-cita.

b.     Puisi
Puisi-puisi Pujangga Baru cenderung untuk meninggalkan puisi-puisi tradisional. Mereka membuat pembaruan-pembaruan dalam bidang ini. Akan tetapi, dalam beberapa hal puisi Pujangga Baru masih menggunakan gaya-gaya Balai Pustaka.
Tema puisi Pujangga Baru merefleksikan adanya kesadaran nasional, perasaan kebangsaan, cinta tanah air, dan antikolonial. Pada umumnya puisi Pujangga Baru bersifat lirik-romantik.
Puisi-puisi Pujangga Baru masih terikat pada aturan-aturan yang sebagian sudah meninggalkan gaya puisi Balai Pustaka. Puisi Pujangga Baru masih terikat pada baris dalam setiap baitnya. Penyebutan jumlah bait ini berdasarkan istilah puisi barat. Penyebutan tersebut, misalnya, distichon untuk bait dwirangkai, terzina untuk bait trirangkai, kwatryn untuk bait catur rangkai, quin untuk bait panca rangkai, sextet untuk bait sad rangkai, septima untuk bait sapta rangkai, oktavo atau stanza untuk bait hasta rangkai, dan sebagainya.
Pujangga Baru juga sangat gemar menulis puisi soneta. Soneta ini adalah sejenis puisi yang berasal dari Italia. Puisi ini memiliki kemiripan dengan pantun yang mementingkan rima akhir. Jumlah baris dalam soneta selalu 14 dengan jumlah baris dalam setiap baitnya bervariasi. Pada soneta Pujangga Baru sedikitnya ada lima bentuk, yaitu satu bait 16 baris, dua bait 8-6, empat bait 4-4-3-3, lima bait 4-4-2-2-2, dan tiga bait 4-4-6.

c.     Drama
Drama Pujangga Baru tidak begitu dominan. Drama pada jaman ini bertema tentang kebesaran sejarah indonesia yang sesuai dengan gerakan Pujangga Baru yang memperjuangkan rasa kebangsaan Indonesia.

5.     Tokoh-Tokoh Pujangga Baru
Dalam Pujangga Baru terdapat tokoh-tokoh yang sangat berperan. Tokoh-tokoh tersebut tersusun sebagai berikut.
1.     A. Hasymi
2.     A.M. Daeng Mijala
3.     Amir Hamzah
4.     Armiyn Pane
5.     Asmara Hadi
6.     Fatimah Hasan Delais
7.     G. S. Lalanang
8.     I Nyoman Panji Tisna
9.     J.E. Tatengkeng
10.  Jusuf Sou’yb
11.  Laurens Koster Bohang
12.  M. D. Yati
13.  M. I. Nasution
14.  M. Taslim Ali
15.  Marius Ramis Dayoh
16.  Mozasa
17.  Muhammad Yamin
18.  N. Adil
19.  O.R. Mandank
20.  R.D.
21.  Rifai Ali
22.  Rustam Efendi
23.  S. Yudho
24.  Samadi
25.  Sanusi Pane
26.  Suman Hs.
27.  Sutan Takdir Alisyahbana
28.  Sutomo Jauhar Arifin
29.  Yogi (Abdul Rivai)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar