Kamis, 04 Oktober 2012

PERIODISASI DAN ANGKATAN DALAM SASTRA



A.     Periodisasi atau Angkatan?
Masalah periodisasi dan sistem angkatan dalam kesusastraan Indonesia adalah masalah lama yang menjadi pembahasan ilmuan-ilmuan sastra. Hal termudah yang bisa dilakukan adalah dengan menelusuri kedua kata itu karena masalah ini timbul karena pemahaman terhadap istilah yang digunakan. Penelusuran bisa dilakukan dengan mengakomodasi berbagai pendapat tentang kedua istilah tersebut kemudian dibandingkan dan cari jalan tengah yang dapat mengakumulasi semua pengertian.
Periodisasi berasal dari kata periode. Periode berarti kurun waktu atau lingkaran waktu (masa) (KBI, 2008:). Lebih detil lagi dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary dinyatakan bahwa periode adalah porsi waktu dalam hidup seseorang, bangsa, peradaban, dsb. Wellek (dalam Pradopo, 2007: 2) menyatakan bahwa periode – dalam kesusastraan – adalah sebuah bagian waktu yang dikuasai oleh suatu sistem norma-norma sastra, standar-standar, dan konvensi-konvensi sastra yang kemunculannya, penyebarannya, keberagaman, integrasi dan kelenyapannya dapat dirunut.
Angkatan, di sisi lain, sering disamakan dengan generasi. Kerancuan dengan istilah di atas terjadi karena sebagian ahli sejarah sastra menyamakan dengan pembabakan waktu dalam sejarah sastra (Rosidi, 1986: 194). Untuk memperjelas, mari kita tinjau istilah tersebut dalam berbagai pengertian dari berbagai sumber. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999: 44), angkatan diartikan sebagai kelompok orang yang lahir sezaman (sepaham dsb).
Dari pembahasan kedua istilah tersebut dapat disimpulkan bahwa periode memiliki pengertian lebih luas. Periode meliputi pula angkatan di dalamnya. Periode lebih menekankan rentang perkembangan sebuah karya sastra pada masa tertentu dari berbagai sudut pandang: pengaruh politik, pengaruh perubahan paradigma sastrawan, perkembangan sastra dsb. Angkatan lebih menekankan pada peran pengarang atau sastrawan dalam mengembankan kesusastraan sebagai tanggapan terhadap angkatan sebelumnya. Dalam tulisan ini, kedua istilah tersebut digunakan secara bergantian bergantung pembahasan, misalnya Pujangga Baru disebut angkatan sedangkan kesusastraan zaman Jepang yang merupakan perkembangan berikutnya disebut periode atau zaman Jepang karena dalam masa yang singkat ini ada ciri khusus yang tidak dimiliki oleh Pujangga Baru yang merupakan periode sebelumnya dan Angkatan 45 yang merupakan angkatan sesudahnya meskipun dalam periode ini tidak terjadi perubahan yang signifikan untuk melahirkan sebuah angkatan.

B.    Dasar-Dasar yang Digunakan dalam Penentuan Periodisasi
Dalam penentuan lahirnya sebuah periode baru, penulis sejarah sastra memiliki pendapat yang beragam. Pendapat tersebut berdasarkan cetusan mereka terhadap sebuah generasi baru dalam kesusastraan Indonesia. Dari buku-buku tersebut disusun dasar-dasar yang digunakan dalam menentukan periode-periode kesastraan Indonesia. Untuk memudahkan pembahasan, aspek tersebut disesuaikan dengan empat orientasi kritik sastra abrams, yaitu mimetik, ekspresif, pregmatik, dan objektif. Orientasi ini disesuaikan menjadi aspek isi, kepengarangan, fungsi sosial karya dan unsur pembangun karya.

1.         Aspek Isi
Aspek ini meliputi berbagai hal, antara lain tema, setting dalam realitas, dan nilai komunal yang tercermin dalam karya, misalnya kawin paksa, pertentangan tua muda, dsb. Dalam hal setting realitas sebuah karya menceritakan waktu tertentu dan tempat tertentu yang ditiru dari dunia nyata. Aspek mimetik ini dalam sebuah karya bisa membedakan sebuah periode, misalnya pada zaman Balai Pustaka setting yang ditampilkan adalah kehidupan Minangkabau pada zaman kolonial. Sekilas hal ini termasuk dalam unsur pembangun karya. Tetapi yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah faktor eksternal karya yaitu realitas kehidupan nyata yang ditiru oleh karya tersebut.

2.         Kepengarangan
3.         Fungsi Sosial Karya Sastra
4.         Unsur Pembangun Karya

C.     Periodisasi Sastra Indonesia
Periodisasi dalam tulisan ini dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu sastra lama, sastra peralihan, dan sastra baru. Periodisasi ini digunakan sebagian besar penulis sejarah sastra yang ada kecuali yang tidak mengakui sastra sebelum kemerdekaan. Meskipun menggunakan periodisasi yang sama kategori sastra yang dimasukkan dalam periode-periode tersebut berbeda. Akan tetapi berikut akan dihadirkan periodisasi-periodisasi yang dilakukan oleh penulis-penulis sejarah sastra.
1.     Masa Animisme-Dinamisme
2.     Masa Hindu
3.     Masa Islam
4.     Masa Peralihan / Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
5.     Angkatan Balai Pustaka
6.     Angkatan Pujangga Baru
7.     Kesusastraan Zaman Jepang
8.     Angkatan 45
9.     Angkatan 50
10.  Angkatan 66
11.  Angkatan 80
12.  Angkatan 2000

1.         Sastra Lama
Sastra lama menurut para ahli meliputi kesusastraan zaman purba, kesusastraan zaman Hindu, dan kesusastraan zaman Islam. Meskipun periodisasi ini diakui oleh hampir semua penulis sejarah sastra Indonesia, namun rentang tahun yang digunakan berbeda-beda. Nugroho Notosusanto membagi dua periode, yaitu kesusastraan Melayu lama dan kesusastraan Melayu modern. Rentang waktu sastra Melayu lama sejak masa dahulu yang tidak terbatas sampai periode 1920-an. Rentang waktu ini juga sama dengan yang dinyatakan oleh Ajip Rosidi, dan H.B Jassin. Penulis lain menyelipkan, di antara kesusastraan Melayu lama dan kesusastraan Melayu baru, kesusastraan peralihan. Hal inilah yang membedakan rentang waktu tersebut. Sebagian penulis memasukkan masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi ke dalam satra lama, sastra peralihan, dan ada yang memasukkan ke dalam kesusastraan Indonesia baru.

a.         Kesusastraan Zaman Purba/Kuno
Kesusastraan pada periode ini adalah kesusastraan yang mencerminkan zaman sebelum adanya pengaruh india, yaitu kesusastraan berupa doa, mantra, silsilah, adat-istiadat, dongeng, kepercayaan masyarakat, dan sebagainya. Kesusastraan zaman ini merupakan kesusastraan yang berdasarkan medianya merupakan sastra lisan.

b.         Kesusastraan Zaman Hindu
Pada periode ini masuk cerita-cerita dari india yang merupakan bagian dari ajaran agama Hindu. J.S. Badudu memasukkan zaman Hindu menjadi satu periode dengan kesusastraan zaman Islam, yaitu zaman Hindu-Islam. Hal senada juga terdapat dalam Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik karya Liau Yock Fang. Dalam buku tersebut kesusastraan zaman purba disebut kesusastraan rakyat. Kesusastraan Hindu tidak dimasukkan dalam pembahasan hanya kesusastraan zaman peralihan Hindu-Islam dan kesusastraan zaman Islam. Dalam buku ini hanya kelengkapan pembahasan yang menjadi titik tumpu mengingat buku ini ditujukan pada pelajar pemula.

c.         Kesusastraan Zaman Islam
Periode ini berlangsung setelah masuknya Islam di Indonesia. Ada ahli yang menggantikan kata Islam dengan Arab. Penamaan ini kurang tepat mengingat dalam sastra Indonesia tidak ada terlalu banyak pengaruh sastra Arab. Pengaruh tersebut terjadi dalam konteks ke-Islaman yang ditunjukkan dengan perubahan beberapa naskah Hindu yang disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. Syair yang merupakan sastra Arab asli masuk bukan semata-mata karena sastra tetapi menjadi kebiasaan ulama-ulama Islam untuk menulis syair dalam pelajaran agama, ilmu bahasa, dan sebagainya.

2.         Kesusastraan Peralihan
Kesusastraan peralihan ini terjadi pada zaman Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (lahir pada 1796 dan meninggal pada 1854). Pada masa ini sudah ada pengaruh barat terhadap kesusastraan Indonesia (Melayu). Sabaruddin Ahmad memasukkan periode ini kedalam kesusastraan baru. Kesusastraan zaman ini juga disebut dengan kesusastraan zaman Abdullah. Penamanaan ini dengan mempertimbangkan setidak-tidaknya dua hal. Pertama, perubahan corak kesusastraan itu dipelopori oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Kedua, kesusastraan pada zaman itu tidak berkembang dan hanya merupakan karya Abdullah sendiri karena tanpa pengikut.

3.         Kesusastraan Baru
Periode ini dimulai sejak berdirinya Balai Pustaka sampai saat ini. Periode-periode tersebut seperti yang tersusun sebagai berikut.

a.     Angkatan 20
Angkatan 20-an disebut juga angkatan Balai Pustaka karena karya sastra yang termasuk dalam angkatan ini adalah tebitan Balai Pustaka. Angkatan ini juga disebut Angkatan Siti Nurbaya karena dalam periode ini roman Siti Nurbaya sangat melegenda.

b.     Angkatan 33
Angkatan 33 disebut juga angkatan Pujangga Baru karena penggagas aliran baru tersebut terkumpul dalam majalah Pujangga Baru.

c.      Kesusastraan Zaman Jepang
Kesusastraan ini lahir pada 1942-1945, yaitu dalam masa penjajahan Jepang di Indonesia. Pengaruh penjajahan ini berpengaruh terhadap sastra pada saat itu. Pengaruh tersebut disebabkan adanya batasan-batasan karya yang boleh diterbitkan

d.     Angkatan 45
Angkatan 45 disepakati hampir semua penulis sejarah sastra dengan nama yang sama. Periode ini dimulai sejak zaman kemerdekaan sampai dengan 1966

e.     Angkatan 50
f.       Angkatan 66
Angkatan 66 adalah angkatan yang popular dan diakui hampir semua penulis sejarah sastra. Angkatan ini timbul bersama terbitnya majalah Horison yang murni menerbitkan tulisan tentang sastra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar